Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan kewaspadaan terhadap tekanan ketidakpastian global yang diprediksi belum mereda.

Hal ini terjadi meskipun Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati perjanjian sementara terkait konflik Timur Tengah.

>>> Samsung Galaxy A57: Desain Tipis 6,9 mm dan Bobot 179 Gram untuk Kenyamanan Harian

Gejolak geopolitik sejak akhir Februari telah mengganggu rantai pasok perdagangan global. Kondisi ini juga menahan laju pertumbuhan ekonomi dunia.

Situasi tersebut memicu peningkatan inflasi global yang diproyeksikan mencapai 4,4 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi dunia sepanjang 2026 diperkirakan tertahan di level 3 persen.

Lembaga moneter global merespons dengan mempertahankan suku bunga tinggi. Fed Funds Rate AS berada di posisi 3,75 persen, diikuti lonjakan yield US Treasury.

Penguatan indeks dolar AS terhadap mata uang negara berkembang memicu peralihan modal investor global menuju aset aman di negara maju.

>>> Portugal Ditahan RD Kongo, Ronaldo: Bukan Awal yang Kami Inginkan

Perry Warjiyo menekankan perlunya kewaspadaan serta penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter.

Kondisi ekonomi nasional dinilai masih terjaga stabil. Hal ini berkat kokohnya permintaan domestik serta optimalisasi stimulus pemerintah untuk mempertahankan daya beli warga.

Otoritas moneter dalam negeri berupaya memperluas inklusi keuangan serta ekonomi digital. Langkah ini dilakukan melalui kebijakan makroprudensial yang akomodatif dan pemantapan sistem pembayaran.

>>> Mendagri: 97 Persen Huntara Pascabencana Sumatera Sudah Terbangun

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 berada dalam kisaran 4,9–5,7 persen. Perry Warjiyo menyampaikan hal ini dalam pernyataan resminya.