Dipo menambahkan bahwa kebutuhan pendanaan untuk mendukung transisi energi global akan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang.

Kondisi ini membuka peluang bagi proyek energi hijau yang memiliki prospek bisnis kuat untuk memperoleh sumber pendanaan yang lebih beragam.

"Transisi energi membutuhkan investasi yang besar dan berkelanjutan.

Dalam konteks itu, panas bumi Indonesia memiliki peluang yang sangat baik untuk menjadi magnet pendanaan global," kata Dipo.

Sebagai negara dengan potensi panas bumi terbesar kedua di dunia, Indonesia memiliki posisi strategis dalam menarik investasi hijau global.

Energi panas bumi juga berperan penting dalam mendukung ketahanan energi nasional karena mampu menyediakan pasokan listrik stabil sepanjang waktu (baseload).

>>> AAUI Ungkap Rencana Danantara Konsolidasi Asuransi BUMN

Sejalan dengan agenda transisi energi nasional, pengembangan panas bumi menjadi salah satu prioritas dalam RUPTL PLN 2025–2034 melalui target peningkatan kapasitas EBT.