>>> Kemenag Bantah Menag Nasaruddin Umar Samakan Pemerintah dengan Firaun

Tekanan Nilai Tukar dan Sentimen Domestik

Nilai tukar rupiah menjadi perhatian utama setelah sempat menyentuh level di atas Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni, mendorong BI menaikkan suku bunga 25 basis poin di luar jadwal pada 9 Juni 2026.

Langkah insidental pertama sejak 2018 itu dinilai tepat untuk menstabilkan kurs di tengah kekhawatiran pasar. Analisis LPEM UI menunjukkan gejolak pasar lebih dipengaruhi sentimen domestik.

Salah satu sentimen negatif adalah pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang memicu kekhawatiran intervensi negara pada ekspor komoditas.

Aksi jual investor asing berlanjut, dengan outflow di pasar saham mencapai US$1,5 miliar pada 20 Mei-11 Juni 2026, sementara pasar obligasi hanya mencatat inflow tipis US$0,02 miliar.

Cadangan devisa Indonesia terkikis akibat intervensi BI, turun US$1,3 miliar pada Mei dan total menyusut US$11,6 miliar sejak awal tahun.

Namun, LPEM UI menilai masih aman setara 5,6 bulan impor.

Peluang penurunan suku bunga di masa depan tetap terbuka jika ekonomi melambat, tetapi tergantung stabilitas rupiah.

>>> BYD M6 DM Siap Guncang Pasar Mobil Hybrid Indonesia dengan Harga Mulai Rp 298 Juta

Jahen menambahkan, inflasi terkendali mengurangi urgensi kenaikan, namun ruang pemangkasan terbatas selama rupiah tertekan.