Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50% hingga 3,75% dalam pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Rabu (17/6/2026) waktu setempat.

Keputusan mutlak 12-0 tersebut mengisyaratkan potensi kenaikan biaya pinjaman pada akhir tahun ini akibat kekhawatiran terhadap inflasi AS yang masih berada di atas target 2%.

>>> Suku Bunga KPR AS Melonjak ke 6,62% Usai Sinyal Fed

Pertemuan ini menandai awal kepemimpinan Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh, yang menghapus panduan masa depan (forward guidance) dan memperpendek dokumen pernyataan kebijakan.

Dot plot komite kini memproyeksikan target suku bunga akhir tahun 2026 naik menjadi 3,8% dari estimasi Maret sebesar 3,4%.

Sembilan pejabat mengantisipasi kenaikan dan hanya satu orang yang memperkirakan penurunan.

Meskipun Presiden Donald Trump menunjuk Warsh dengan harapan adanya pemangkasan suku bunga, pernyataan terbaru Fed justru menghapus sinyal pelonggaran moneter.

Fed memperkirakan inflasi PCE inti akhir tahun melonjak ke 3,3% serta PCE headline ke 3,6%.

Pasar keuangan merespons secara bearish di mana yield obligasi AS jangka pendek melonjak dan indeks saham Wall Street seperti S&P 500 serta NASDAQ ditutup melemah.

Proyeksi ekonomi juga memangkas pertumbuhan GDP tahun ini menjadi 2,2%.

>>> Portugal Ditahan Imbang RD Kongo 1-1 di Piala Dunia 2026

Dalam konferensi pers, Warsh menegaskan bahwa situasi ekonomi saat ini tidak cocok untuk menggunakan panduan masa depan yang kaku.

"I can't give you any forward guidance about what we're going to do next. The good news is we'll be meeting in six weeks," kata Warsh.

Pernyataan moneter terbaru ini juga menegaskan bahwa produktivitas dan investasi modal tetap kuat, meski inflasi sektor tertentu seperti energi masih tinggi akibat gangguan pasokan.