Sebagai konsultan yang membantu berbagai perusahaan bertransisi menuju praktik bisnis yang berkelanjutan, sangat penting bagi kami untuk mengukur, mengelola, dan mengurangi jejak karbon kami sendiri secara kredibel terlebih dahulu," kata Johan.

Langkah ini diharapkan bisa memicu kesadaran para pelaku usaha lain agar mempercepat program dekarbonisasi mereka.

"Kami berharap langkah nyata BDO di Indonesia ini dapat menginspirasi dan mendorong lebih banyak pelaku bisnis di Indonesia untuk bersama-sama mengakselerasi agenda dekarbonisasi mereka secara terstruktur dan terukur," ujar Johan.

ESG Expert BDO Indonesia Amandari memaparkan bahwa penyelarasan target dengan standar sains bertujuan memastikan akuntabilitas proses dekarbonisasi.

"Validasi dari SBTi menjadi tonggak penting yang memperkuat arah perjalanan kami menuju masa depan rendah karbon," ungkap Amandari.

Tantangan dekarbonisasi diperkirakan terus berkembang, namun BDO Indonesia menyatakan tetap berkomitmen menjalankan inisiatif demi target emisi 2050.

Perusahaan menempatkan pengurangan emisi sebagai elemen strategis dan terus menyisir peluang efisiensi karbon pada seluruh kegiatan operasional.

Sesuai dengan regulasi SBTi, emisi sisa yang masih ada saat target net-zero tercapai akan dikelola lewat mekanisme netralisasi standar global.

SBTi sendiri merupakan organisasi aksi iklim internasional yang memfasilitasi korporasi global dalam merumuskan target penurunan emisi ilmiah.

>>> Pengamat: Minat Investor Energi Bersih Buka Peluang Pendanaan Panas Bumi

Lembaga tersebut bergerak bersama mitra strategis seperti CDP, United Nations Global Compact, We Mean Business Coalition, World Resources Institute (WRI), dan World Wide Fund for Nature (WWF).