Studi dari Arrazola dan de Hevia memperkirakan penyusutan modal manusia berkisar antara 1 hingga 1,5 persen per tahun.

Sementara itu, Lentini dan Gimenez menemukan rentang depresiasi sebesar 1 hingga 6 persen di berbagai sektor kerja.

"Jadi, semakin lama lulusan menganggur, semakin besar output yang hilang, bukan hanya karena mereka tidak bekerja, tetapi karena nilai produktivitas mereka ikut terkikis," ucap Syafruddin.

Ancaman Middle Income Trap

Masalah ketidaksesuaian keahlian yang masif berisiko memperpanjang masa terjebaknya Indonesia dalam perangkap pendapatan menengah (middle income trap).

Hambatan ini muncul akibat kegagalan mengubah hasil pendidikan tinggi menjadi produktivitas nasional.

Saat ini, Indonesia berada dalam fase demografi krusial dengan jumlah penduduk usia produktif yang besar. Namun, peningkatan kualitas pekerjaan belum mampu mengimbangi kecepatan pertumbuhan jumlah lulusan institusi pendidikan.

Ketika para sarjana masuk ke sektor informal atau pekerjaan rendah keterampilan, bonus demografi berisiko berubah menjadi tekanan sosial.

Syafruddin mengungkapkan bahwa middle income trap terjadi saat upah naik tanpa diiringi produktivitas yang cukup tinggi.

Ketidaksesuaian kompetensi memperparah situasi tersebut karena pendidikan hanya menghasilkan ijazah tanpa penyerapan keterampilan oleh industri.

Akibatnya, negara menanggung beban kenaikan anggaran pendidikan dan jumlah sarjana tanpa adanya lonjakan output per pekerja.

"Tenaga muda terdidik yang seharusnya menjadi mesin inovasi justru mengalami depresiasi keterampilan, frustrasi ekonomi, dan penurunan daya tawar di pasar kerja," kata Syafruddin.

Sepertiga Pekerja Muda Mengalami Mismatch

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) bertajuk Mismatch Pendidikan–Pekerjaan Pemuda Indonesia: Implikasi Bagi Bonus Demografi yang dirilis 31 Oktober 2025, angka pekerja yang bekerja sesuai tingkat pendidikan baru mencapai 64,64 persen.