Gencatan Senjata AS-Iran Tekan Posisi Politik Netanyahu
Ia berharap para sekutu dapat memahami posisi Israel saat berada dalam ancaman keamanan.
Keraguan dari Mantan Pejabat Mossad
Mantan pejabat Mossad sekaligus spesialis masalah Iran, Sima Shine, mempertanyakan keputusan diplomasi yang diambil oleh pemerintah Amerika Serikat.
Menurutnya, langkah AS menerima draf perjanjian tersebut sulit dipahami dari sudut pandang strategi keamanan.
Shine menilai kesepakatan itu memberikan ruang bagi Iran untuk menentukan situasi di Lebanon.
>>> Thomas Tuchel Panggil Trevoh Chalobah ke Skuad Piala Dunia Inggris
Dampaknya, Teheran memiliki peluang besar untuk terus menyokong kekuatan politik dan militer Hezbollah di wilayah tersebut.
Kondisi ini memicu ketidakpuasan yang luas di internal pemerintahan Israel.
Shine menegaskan bahwa penolakan terhadap poin kesepakatan tersebut datang dari lembaga keamanan maupun elite politik Israel.
Menanggapi gelombang kritik tersebut, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memberikan pembelaan dalam konferensi pers di Yerusalem pada Senin malam.
Netanyahu menolak anggapan bahwa strategi penangkalan terhadap Iran telah gagal.
Ia menegaskan pihaknya akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menghentikan program nuklir Iran.
Netanyahu mengakui adanya perbedaan pandangan antara dirinya dan Donald Trump dalam beberapa isu.
Ia mengklaim telah menyampaikan kepentingan strategis Israel secara tegas dalam diskusi-diskusi sebelumnya.
Menurut Netanyahu, ketegasan Israel membuat tuntutan Iran agar militer Israel mundur tidak terwujud.
Ia mengklaim pemerintah AS tetap menghormati ketegasan tersebut serta mendukung kebebasan operasi militer Israel jika mendapatkan ancaman.
Di sisi lain, pengamat senior masalah Iran dari Institute for National Security Studies (INSS), Danny Citrinowicz, menilai Israel perlu melakukan evaluasi total.
Menurut analisisnya yang dimuat di surat kabar Israel Hayom, posisi Israel kini jauh lebih terbatas dibanding masa lalu.
Citrinowicz mengingatkan bahwa setiap tindakan militer Israel yang dinilai menyabotase perjanjian AS-Iran akan memicu respons keras dari Washington.
Situasinya kini berbeda dengan era pemerintahan Obama, di mana Netanyahu bisa melobi Kongres AS untuk membatalkan kebijakan Gedung Putih.
Citrinowicz menambahkan bahwa celah politik untuk melewati kebijakan presiden AS saat ini hampir tidak ada bagi Israel.
>>> Utang Luar Negeri Indonesia April 2026 Tembus 439,8 Miliar Dolar AS
Akibatnya, manuver politik luar negeri Israel menjadi sangat terbatas di tengah situasi geopolitik yang kian dinamis.
Update Terbaru
IHSG Diprediksi Menguat pada Rabu, Didukung Sentimen Global dan Rupiah
Rabu / 17-06-2026, 08:16 WIB
Pemerintah Ceará dan Sebrae/CE Perkuat Integrasi Tata Kelola dan Iklim Usaha
Rabu / 17-06-2026, 08:16 WIB
PT Merdeka Battery Materials Usulkan Dua Nama Baru untuk Direksi
Rabu / 17-06-2026, 08:15 WIB
Pemerintah Ceará Genjot Investasi Daerah Lewat Forum Manajemen Publik
Rabu / 17-06-2026, 08:15 WIB
LPDP Kelola Dana Abadi Rp180,81 Triliun hingga Mei 2026
Rabu / 17-06-2026, 08:14 WIB
Norwegia Pimpin Klasemen Grup I Piala Dunia 2026 Usai Cukur Irak
Rabu / 17-06-2026, 08:13 WIB
Bank of Japan Naikkan Suku Bunga 25 Basis Poin, Tertinggi Sejak 1995
Rabu / 17-06-2026, 08:13 WIB
Tottenham Hotspur Siap Bersaing untuk Sandro Tonali di Bursa Transfer 2026
Rabu / 17-06-2026, 08:12 WIB
Alfamart Perpanjang Diskon Akhir Pekan dan Luncurkan Promo Dua Mingguan
Rabu / 17-06-2026, 08:12 WIB
Merdeka Gold Resources Raih Dukungan Investor Global untuk IPO Hong Kong
Rabu / 17-06-2026, 08:12 WIB
5 Mitos Tumor Otak yang Sering Bikin Panik, Ini Fakta Medisnya
Rabu / 17-06-2026, 08:12 WIB
43 Aplikasi Penghasil Uang Bertransformasi Jadi Jaringan Pialang Data
Rabu / 17-06-2026, 08:12 WIB
Alumni ITB Sukses Buka Laundry Ramah Lingkungan Tanpa Deterjen Kimia
Rabu / 17-06-2026, 08:10 WIB
Garena Rilis Kode Redeem Free Fire Aktif 17 Juni 2026, Klaim Hadiah Gratis
Rabu / 17-06-2026, 08:09 WIB






