Mayoritas pengemudi ojek online memilih bertahan menggunakan bahan bakar minyak jenis Pertalite untuk menekan biaya operasional harian.

Keputusan ini diambil menyusul kenaikan harga Pertamax yang diberlakukan PT Pertamina Patra Niaga sejak Rabu, 10 Juni 2026.

>>> TVRI Siarkan Langsung 6 Laga Perdana Piala Dunia 2026 Mulai Rabu Dini Hari

Kenaikan harga BBM non-subsidi tersebut dinilai belum berdampak langsung terhadap operasional sebagian pengemudi. Mereka lebih memprioritaskan stabilitas jumlah pesanan yang masuk setiap hari untuk menjaga pendapatan.

Pengemudi ojek online asal Depok, Abdulloh, mengaku belum merasakan dampak kenaikan Pertamax karena masih menggunakan Pertalite. Namun ia menyadari bahwa ke depannya pasti akan terasa juga.

Menurut Abdulloh, tantangan terbesar saat ini adalah menjaga jumlah order tetap stabil. Pendapatan pengemudi sangat bergantung pada banyaknya pesanan yang diterima setiap hari.

Sikap serupa diambil oleh pengemudi lain, Aziz, yang memutuskan beralih kembali ke Pertalite setelah melihat lonjakan harga Pertamax.

Ia mengaku tidak sanggup lagi menggunakan Pertamax setiap hari.

>>> Kode Redeem Wizard Legend Duel Mei 2026 Gratis, Klaim Hadiah Sekarang

Meskipun harus menghadapi antrean lebih panjang di SPBU, penggunaan Pertalite dianggap sebagai pilihan paling ekonomis. Cara ini dilakukan untuk mengontrol pengeluaran harian.

PT Pertamina Patra Niaga menetapkan harga baru Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter.

Varian Pertamax Green 95 juga naik menjadi Rp17.000 per liter dari Rp12.900 per liter.

Di tengah perubahan tarif BBM non-subsidi ini, volume pesanan tetap menjadi faktor paling krusial penentu penghasilan pengemudi.

>>> Pasar Keuangan Asia Menguat Setelah AS dan Iran Sepakat Damai

Komunitas mitra pengemudi berharap pemerintah dan perusahaan aplikator terus memberikan dukungan untuk menjaga kesejahteraan pekerja di sektor ini.