Kapal-kapal lama harus segera keluar dari kawasan selat guna memberi ruang bagi armada baru yang akan masuk.

"Anda membutuhkan jaminan keamanan yang kuat untuk membawa kapal masuk, memuat minyak, dan membawanya keluar," kata Daniel Evans.

Distribusi juga memerlukan waktu perjalanan laut yang panjang sebelum minyak sampai ke kilang dan siap dikonsumsi.

Di sisi lain, beberapa produsen Timur Tengah sempat menghentikan ekstraksi karena keterbatasan ruang penyimpanan.

Wakil presiden senior di firma analitik Wood Mackenzie Alan Gelder menyebutkan bahwa beberapa negara memiliki keunggulan geografis.

Negara dengan jalur pipa alternatif seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab diprediksi lebih cepat memulihkan produksi mereka.

Sebaliknya, Irak menghadapi kendala yang lebih rumit akibat skala penghentian produksi yang luas.

Pemulihan ladang minyak di negara tersebut diperkirakan membutuhkan waktu hingga satu tahun.

Stabilitas Keamanan Selat Hormuz

Pakar dari Center on Global Energy Policy di Universitas Columbia Daniel Sternoff menilai faktor kepercayaan menjadi kunci utama pemulihan ekonomi ini.

Negara produsen tidak akan memacu produksi sebelum ada kepastian stabilitas politik jangka panjang.

"Kami belum tahu seberapa cepat material yang terjebak bisa dievakuasi atau seberapa stabil akses selat ini ke depannya," ujar Daniel Sternoff.

Selat Hormuz yang membentang di antara Oman dan Iran tetap menjadi titik sumbat energi paling krusial di dunia.

>>> Promo Tip Top 30 April hingga 5 Mei 2026: Potongan Harga untuk Beragam Kebutuhan

Jalur ini menjadi pintu keluar utama bagi minyak dari Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab menuju Asia, Eropa, dan Amerika Utara.