Kesepakatan baru untuk mengakhiri konflik di Iran dan membuka kembali Selat Hormuz menumbuhkan harapan bagi pasar energi global.

Konflik yang sempat meredam aktivitas maritim tersebut kini mulai menunjukkan titik terang bagi pemulihan pasokan.

>>> Bahana TCW Targetkan Pertumbuhan Dana Kelolaan 5 Persen pada 2026

Meski demikian, para pakar energi mengingatkan bahwa penurunan harga bensin dan minyak dunia tidak akan terjadi secara instan.

Dikutip dari Investor Daily, pelaku industri membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menstabilkan kembali operasional distribusi global.

Proses pengiriman minyak mentah yang memakan waktu, kelambatan pengilangan, serta pemulihan rasa aman di Selat Hormuz menjadi alasan utama.

Selama lebih dari tiga bulan, kapal tanker terpaksa tertahan di Teluk Persia akibat situasi yang tidak kondusif.

Jalur perairan tersebut merupakan urat nadi vital yang mengalirkan seperlima pasokan energi dunia.

Kepala riset bahan bakar dan pengilangan global di S&P Global Energy Daniel Evans memaparkan situasi pasar saat ini.

"Butuh waktu agar semua pihak merasa aman, jaminan asuransi tersedia, dan tim di lapangan siap untuk mengoperasikan kembali aset-aset yang sempat terhenti," ujar Daniel Evans.

Respons positif langsung terlihat pada pergerakan pasar internasional Senin pagi.

Harga minyak mentah Brent terkoreksi sebesar US$ 3,45 menjadi US$ 83,89 per barel, sementara patokan AS turun US$ 4,03 ke angka US$ 80,85 per barel.

Kendati mengalami penurunan, harga tersebut dinilai masih lebih tinggi dari kondisi sebelum konflik bergejolak.

Pada situasi normal, harga minyak dunia berada di kisaran US$ 70 per barel.

Proses evakuasi kapal tanker yang sempat tertahan menjadi tantangan logistik utama di lapangan.

>>> Stanford Buka Pendaftaran Program Akselerasi Bisnis untuk Pengusaha Indonesia