Perekonomian China menunjukkan ketidakseimbangan yang semakin melebar pada Mei 2026. Penjualan ritel mencatat penurunan pertama dalam lebih dari tiga tahun, sementara investasi merosot lebih dalam.

Di sisi lain, sektor produksi industri tetap tumbuh berkat sokongan ekspor dan permintaan teknologi.

>>> Waskita Beton Precast Gelar Private Placement Tahap VI pada 22 Juni 2026

Data resmi Biro Statistik Nasional (NBS) pada Selasa (16/6/2026) mengonfirmasi pola pertumbuhan dua arah ini.

Penjualan Ritel Terkontraksi

Penjualan ritel turun 0,6 persen pada Mei dibandingkan bulan sebelumnya, kontraksi bulanan pertama sejak Desember 2022. Angka ini lebih rendah dari proyeksi konsensus Reuters yang memperkirakan stagnan.

Tekanan konsumsi terlihat jelas pada industri otomotif, di mana penjualan mobil domestik menyusut selama delapan bulan berturut-turut hingga Mei.

Aktivitas belanja wisatawan selama libur Hari Buruh juga sepi.

Efektivitas program tukar tambah barang konsumsi mulai kehilangan momentum. Konsumen kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang.

Jie'ao Feng, manajer bar di Shanghai, mengakui bisnisnya terdampak. Anggaran hiburan korporasi menyusut, sehingga kunjungan pelanggan menurun.

Ia menawarkan paket grup untuk menarik pengunjung, tetapi margin keuntungan terpaksa dikorbankan. Penayangan Piala Dunia pun tidak memberikan dampak signifikan karena pertandingan berlangsung larut malam.

"Konsumen tidak seimpulsif seperti sebelumnya," kata Feng.

Zhiwei Zhang, Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management, mengatakan kemerosotan ini menambah urgensi stimulus kebijakan. Ia memperkirakan penyesuaian kebijakan akan dilakukan pada Juli setelah data PDB kuartal kedua dirilis.

Produksi Industri Tumbuh, Properti Masih Tertekan

Produksi industri naik 4,5 persen pada Mei secara tahunan, melampaui ekspektasi pasar 4,3 persen. Sektor ini didorong lonjakan investasi AI global dan permintaan perangkat teknologi.