Manufaktur teknologi tinggi China melonjak 15,1 persen pada Mei.

Ekonom senior Economist Intelligence Unit, Xu Tianchen, menyoroti perbedaan antara permintaan domestik dan eksternal, serta antara AI dan industri tradisional.

>>> Emiten BEI Gelar Buyback Saham Bernilai Jumbo, Total Capai Rp 17,8 Triliun

Konsumsi jasa tumbuh 5,4 persen pada Januari-Mei, lebih baik dari penjualan barang. Namun, lajunya melambat dari 5,6 persen pada empat bulan pertama.

Xu memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal II melandai ke 4,5 persen, setelah 5 persen di kuartal I.

Untuk tahun penuh 2026, target 4,5-5 persen masih mungkin tercapai, tetapi permintaan domestik lemah memerlukan intervensi.

Investasi aset tetap turun 4,1 persen pada Januari-Mei, lebih dalam dari kontraksi 1,6 persen pada Januari-April.

Juru Bicara NBS, Fu Linghui, menyebut faktor cuaca ekstrem sebagai penyebab sebagian penurunan.

Sektor properti masih menjadi sentimen negatif utama.

Investasi properti ambles 16,2 persen pada Januari-Mei dibandingkan tahun lalu, lebih parah dari penurunan 13,7 persen pada Januari-April.

Penjualan properti dan proyek baru juga turun lebih tajam, sementara harga rumah baru bulanan merosot lebih cepat pada Mei.

Stabilisasi awal mulai terlihat di beberapa kota besar, tetapi penyaluran pinjaman rumah tangga masih loyo.

Masyarakat enggan mengambil KPR karena pertumbuhan pendapatan lambat dan kecemasan terhadap stabilitas pekerjaan. Sekitar 12,7 juta lulusan baru siap membanjiri pasar kerja musim panas ini.

Kekhawatiran akan pergantian tenaga kerja oleh AI juga meningkat. Namun, angka pengangguran nasional turun menjadi 5,1 persen pada Mei dari 5,2 persen pada April.

Ekspor Kuat, Risiko Ketegangan Dagang

Para ekonom menilai ekspor yang kokoh berpotensi menjaga pertumbuhan ekonomi tahun ini. Namun, surplus perdagangan yang melebar memicu risiko gesekan dengan mitra dagang.

>>> Jateng Raih Capaian Sertifikasi Tanah Wakaf Tertinggi Nasional

Zhang dari Pinpoint Asset Management memperingatkan potensi ketegangan dengan kawasan Eropa sebagai risiko krusial dalam beberapa bulan ke depan.