Bank Indonesia (BI) melaporkan penjualan ritel nasional mengalami kontraksi pada April 2026.

Indeks Penjualan Riil (IPR) berada di angka 226,9 atau turun 3,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

>>> Diplomasi dan Geografi Jadi Kunci Arab Saudi Bebas dari Penjajahan

Penurunan tersebut merupakan yang terdalam sejak Mei 2023. BI menyebut normalisasi permintaan masyarakat pasca-Ramadan dan Idul Fitri menjadi penyebab utama.

Secara bulanan, penjualan ritel April juga terkontraksi hingga 11,6 persen. Meski demikian, beberapa kelompok barang masih mencatat pertumbuhan tahunan.

Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, serta Barang Budaya dan Rekreasi tetap tumbuh secara tahunan.

Hal itu mendorong kinerja penjualan eceran secara keseluruhan.

>>> Warren Buffett Ungkap Kesalahan Fatal Investor Saham: Merasa Harus Punya Opini di Setiap Momen

Proyeksi Mei 2026

Untuk Mei 2026, BI memproyeksikan IPR berada di posisi 225, atau turun 0,9 persen secara tahunan.

Kontraksi bulanan diperkirakan membaik berkat momen libur Kenaikan Yesus Kristus, Idul Adha, dan Waisak.

Penopang utama penjualan pada Mei diperkirakan masih dari kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, dan Barang Lainnya.

>>> 7 Lokasi SPKLU PLN di Medan untuk Isi Daya Mobil Listrik

Dari sisi harga, BI memprediksi tekanan inflasi pada Juli 2026 cenderung stabil. Namun, inflasi diperkirakan meningkat pada Oktober 2026 akibat kenaikan harga bahan baku.