Warren Buffett Ungkap Kesalahan Fatal Investor Saham: Merasa Harus Punya Opini di Setiap Momen
Investor legendaris Warren Buffett kembali menjadi sorotan setelah video lamanya yang membahas kesalahan mendasar investor saham viral di platform X.
Dilansir dari Investor Daily pada Sabtu (2/5/2026), mantan CEO Berkshire Hathaway itu mengungkapkan bahwa banyak pelaku pasar terjebak dalam kekeliruan fatal karena merasa harus merespons setiap pergerakan instrumen di pasar modal.
>>> 7 Lokasi SPKLU PLN di Medan untuk Isi Daya Mobil Listrik
"Adalah kesalahan besar jika Anda berpikir harus memiliki opini tentang segala hal. Anda hanya perlu memiliki opini tentang beberapa hal saja," tegas Buffett.
Filosofi dari Dunia Bisbol
Buffett mengadopsi filosofi dari buku The Science of Hitting karya atlet bisbol legendaris Ted Williams untuk menjelaskan perbedaan krusial antara olahraga dan investasi.
Dalam bisbol, seorang pemukul akan dinyatakan keluar setelah tiga kali membiarkan bola masuk ke zona strike tanpa mengayun.
Namun, dalam investasi tidak ada istilah called strikes.
"Saya hanya akan mendapatkan strike jika saya mengayun pada bola tersebut namun meleset," ujar pria berusia 95 tahun itu.
Ia menekankan bahwa pelaku pasar dihadapkan pada ribuan pilihan saham setiap hari, tetapi tidak memiliki kewajiban untuk langsung membelinya.
Ilustrasi Kartu Bolong
Untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai prinsip selektivitas, Buffett kerap menggunakan ilustrasi kartu bolong atau punch card.
Metode ini mengandaikan seseorang hanya diberi jatah 20 lubang kartu yang mewakili batasan jumlah keputusan investasi sepanjang hidup.
Pembatasan itu akan memaksa seseorang untuk berpikir lebih keras dan bertindak sangat selektif sebelum mengambil langkah penempatan modal.
"Anda tidak butuh 20 keputusan yang tepat untuk menjadi kaya raya.
Mungkin hanya empat atau lima keputusan besar yang tepat seiring berjalannya waktu, itu sudah lebih dari cukup," kata Buffett.
>>> Dua Developer Indonesia Hadiri WWDC 2026 di Apple Park, Bertemu Tim Cook
Melalui Berkshire Hathaway, ia secara konsisten menerapkan strategi value investing yang berfokus pada pembelian saham undervalued dengan orientasi pertumbuhan jangka panjang.
Update Terbaru
Pemilik Restoran di Pittsburgh Tolak Tawaran Kolaborasi Berbayar Influencer TikTok
Kamis / 11-06-2026, 12:53 WIB
OJK Pastikan Intermediasi Perbankan Tetap Terjaga di Tengah Pelemahan Rupiah
Kamis / 11-06-2026, 12:52 WIB
NASA Ungkap Alasan Manusia Belum Kembali ke Bulan Sejak 1972
Kamis / 11-06-2026, 12:52 WIB
Menteri UMKM Usulkan Tambahan Anggaran Rp 1,5 Triliun untuk 2027
Kamis / 11-06-2026, 12:52 WIB
KLH Susun RPPEM Nasional untuk Kelestarian Mangrove 2026-2055
Kamis / 11-06-2026, 12:51 WIB
DJP Tambah 2,7 Juta Wajib Pajak Baru hingga Juni 2026
Kamis / 11-06-2026, 12:51 WIB
Kemenkop Usulkan Tambahan Anggaran Rp1,34 Triliun untuk Koperasi Desa
Kamis / 11-06-2026, 12:51 WIB
Cara Nonton Piala Dunia 2026 di Smart TV via MAXStream TV
Kamis / 11-06-2026, 12:49 WIB
Javier Aguirre Siapkan Timnas Meksiko Jelang Laga Pembuka Piala Dunia 2026
Kamis / 11-06-2026, 12:49 WIB
OIKN Ajukan Tambahan Anggaran Rp3,2 Triliun untuk IKN Tahap Dua
Kamis / 11-06-2026, 12:49 WIB
Amerika Serikat Resmi Jadi Eksportir Minyak Terbesar Dunia pada Mei 2026
Kamis / 11-06-2026, 12:48 WIB
Pertamina Perkuat Sinergi Operasional demi Jaga Ketahanan Energi
Kamis / 11-06-2026, 12:48 WIB
Harga Emas Digital 11 Juni 2026 Alami Penurunan, Minat Investasi Tetap Tinggi
Kamis / 11-06-2026, 12:48 WIB
Bank Indonesia Proyeksikan Penjualan Eceran Mei 2026 Membaik
Kamis / 11-06-2026, 12:48 WIB






