Pandangan umum di dunia investasi sering menganggap saham berharga rendah sebagai peluang besar. Namun, investor legendaris sekaligus CEO Berkshire Hathaway, Warren Buffett, memiliki perspektif berbeda.

Menurut Buffett, penurunan harga saham bukan jaminan keuntungan di masa depan. Harga rendah sering menjadi indikator adanya persoalan mendasar pada operasional bisnis perusahaan.

>>> Lewis Hamilton Raih Kemenangan Perdana Bersama Ferrari di GP Catalunya

Investor dinilai melakukan kekeliruan besar jika menganggap saham yang harganya merosot otomatis menjadi lebih aman atau menarik. Penurunan nilai pasar justru sering merefleksikan peningkatan risiko kerugian permanen.

Dunia keuangan umumnya mengukur risiko berdasarkan volatilitas harga. Buffett menolak indikator tersebut karena fluktuasi harga justru menyesatkan investor.

Bagi Buffett, esensi risiko yang sebenarnya adalah potensi kehilangan nilai investasi secara permanen. Pergerakan harga jangka pendek tidak masalah selama fundamental bisnis tetap sehat.

"Risk is not the possibility of price fluctuations — it’s the possibility of permanent loss," ujar Buffett. Kerugian sejati muncul ketika penurunan harga saham dibarengi melemahnya kinerja nyata perusahaan.

Hubungan Harga dan Nilai Intrinsik

Prinsip mendasar Buffett adalah harga merupakan nominal yang dibayarkan, sedangkan nilai adalah apa yang didapatkan investor.

Nilai sejati perusahaan bertumpu pada fundamental seperti arus kas, kekuatan kompetisi, dan kualitas manajemen.

Saham murah tidak akan memberikan dampak positif jika bisnisnya tidak memiliki prospek jangka panjang cerah.

Harga diskon hanya menguntungkan jika nilai bisnis tetap kuat, jika tidak maka saham tersebut bisa menjadi perangkap.

Tiga Faktor Bahaya Saham Berharga Rendah

Buffett mengamati tiga situasi utama yang membuat saham murah berisiko tinggi. Pertama, masalah keuangan serius seperti utang tinggi atau penurunan pendapatan yang membuat peluang pemulihan kecil.