Banyak investor bereaksi panik saat pasar saham turun tajam. Mereka cenderung menjual aset secara emosional.

Warren Buffett, investor legendaris, justru melihat krisis sebagai peluang. Ia tetap konsisten pada prinsip investasi jangka panjang.

>>> Globalisasi Piala Dunia 2026 Ubah Wajah Sepak Bola Modern

Buffett menekankan pentingnya kesabaran saat pasar bergejolak. Ia mengingatkan bahwa pasar dirancang untuk memindahkan uang dari yang aktif ke yang sabar.

Manfaatkan Ketakutan Pasar dan Fokus pada Fundamental

Buffett menerapkan prinsip menjadi takut saat orang lain serakah, dan sebaliknya. Saat publik panik menjual, ia justru membeli karena harga aset diskon besar.

Contohnya, saat krisis 2008, Buffett menginvestasikan US$5 miliar ke Goldman Sachs. Langkah itu memberikan keuntungan besar setelah pasar pulih.

Ia juga menguji apakah penurunan harga 30 persen mengubah konsumsi masyarakat. Jika tidak, fundamental perusahaan tetap kokoh.

>>> Laba Bersih Konsolidasi BTN Melonjak 54 Persen Hingga Mei 2026

Sentimen jangka pendek memang memengaruhi harga, tetapi nilai sejati bisnis tidak mudah berubah.

Hindari Spekulasi dan Siapkan Dana Tunai

Buffett memperingatkan agar tidak mencoba menebak arah pasar. Ia lebih memilih investasi jangka panjang daripada keluar-masuk karena emosi.

Konsistensinya terlihat dari kepemilikan saham Coca-Cola yang dipegang lebih dari tiga dekade. Cadangan tunai juga penting sebagai amunisi saat harga murah.

>>> Mohamed Salah Desak Liverpool Kembalikan Gaya Heavy Metal Football

Perusahaannya, Berkshire Hathaway, selalu menyimpan kas besar untuk memanfaatkan peluang saat pasar lesu.