Pelaku Pelayaran Global Masih Hati-hati Sikapi Pembukaan Selat Hormuz
Kapal tersebut berlayar dari Ras Laffan, Qatar, dan ditargetkan tiba di terminal Dahej, India, pada 18 Juni 2026.
Asosiasi pelayaran internasional BIMCO sejauh ini tetap memasukkan Selat Hormuz dalam kategori wilayah berisiko tinggi.
>>> Kemensos Perbarui Data Penerima Bansos Lewat DTSEN Juni 2026
Chief Safety and Security Officer BIMCO, Jakob Larsen, menyebutkan bahwa pemilik kapal memerlukan kepastian mengenai aspek keselamatan sebelum melintas.
"Langkah berikutnya adalah memastikan bahwa pelayaran melalui Selat Hormuz benar-benar aman untuk dilakukan," katanya.
Sikap serupa diambil oleh asosiasi pemilik kapal Jepang yang memilih menunggu informasi konkret sebelum menormalisasi operasional. Perusahaan pelayaran Jepang Nippon Yusen berharap situasi segera normal, sedangkan Mitsui O.
S. K.
Lines menekankan operasional penuh hanya berjalan setelah faktor keselamatan terkonfirmasi.
Di Eropa, asosiasi pemilik kapal Jerman (VDR) menyatakan optimisme secara hati-hati.
Perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd berharap kapalnya dapat melintas pekan ini, sementara raksasa Denmark Maersk menyambut positif situasi tersebut tetapi belum mengubah operasionalnya di Timur Tengah.
Normalisasi Membutuhkan Waktu Berbulan-bulan
Berdasarkan data Kpler per 15 Juni 2026, terdapat sekitar 155 kapal tanker minyak dan kimia yang bertahan di kawasan Teluk Timur Tengah.
Angka ini menunjukkan penurunan dari posisi akhir Mei lalu yang mencapai sekitar 201 kapal.
Di sisi lain, Oil Brokerage memperkirakan jumlah kapal tanker yang berada di kawasan tersebut menyentuh angka 215 unit.
Head of Shipping Research Oil Brokerage, Anoop Singh, memproyeksikan antrean kapal di kedua sisi Selat Hormuz dapat terurai dalam kurun waktu 8 hingga 10 hari jika pelayaran dibuka tanpa pembatasan.
Meski demikian, proses pemulihan secara menyeluruh diperkirakan memakan waktu yang lebih panjang dari perkiraan awal.
Global Oil Market Leader ICIS, David Jorbenaze, menjelaskan bahwa pemulihan aktivitas pelayaran yang signifikan membutuhkan proses pembersihan ranjau laut serta normalisasi tarif asuransi.
>>> Harga Emas Kontrak AS Menguat 3 Persen Sentuh US$ 4.366,80 Per Ons Troi
"Pemulihan sebagian lalu lintas kapal dapat terjadi dalam beberapa pekan, tetapi untuk kembali ke volume pelayaran sebelum konflik secara realistis baru dapat tercapai pada 2027, dengan syarat kesepakatan berjalan lancar dan produksi energi pulih sesuai harapan," ujarnya.
Update Terbaru
De la Fuente Pilih Unai Simon, David Raya Cadangan Lawan Cabo Verde
Selasa / 16-06-2026, 01:37 WIB
John Godfrey Mundur dari Jabatan Head of Commissioning SBS
Selasa / 16-06-2026, 01:36 WIB
Dani Olmo: Target Spanyol Juara Piala Dunia Sangat Realistis
Selasa / 16-06-2026, 01:36 WIB
Superindo Gelar Promo Weekday 20-23 April 2026, Diskon hingga 50 Persen
Selasa / 16-06-2026, 01:36 WIB
Bahlil Usulkan Kenaikan Kuota Solar Subsidi pada 2027
Selasa / 16-06-2026, 01:36 WIB
Tanjung Verde Tahan Imbang Spanyol Tanpa Gol di Piala Dunia
Selasa / 16-06-2026, 01:36 WIB
Promo JSM Superindo 18 April 2026: Ayam Broiler dan Kopi Kapal Api Lebih Murah
Selasa / 16-06-2026, 01:36 WIB
Rupiah Menguat Tajam Menjelang Perdagangan Selasa
Selasa / 16-06-2026, 01:34 WIB
3 Maret: Hari Satwa Liar dan Hari Pendengaran Sedunia
Selasa / 16-06-2026, 01:34 WIB
Ketegangan AS-Iran Mereda, Pasar Keuangan Global Menguat
Selasa / 16-06-2026, 01:34 WIB
Mengapa One UI 9 Bisa Jadi Pembaruan Terakhir untuk Galaxy S23 Series
Selasa / 16-06-2026, 01:33 WIB
Laba Bersih BTN Tumbuh 54 Persen Hingga Mei 2026
Selasa / 16-06-2026, 01:33 WIB
Cara Mengisi NJOP Meter Data Rumah KIP Kuliah 2026
Selasa / 16-06-2026, 01:32 WIB
10 Serial Netflix Teratas Hari Ini, Drama Korea Mendominasi
Selasa / 16-06-2026, 01:32 WIB






