Nilai tukar rupiah menguat tajam sebesar 151 poin ke level Rp 17.708 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin sore (15/6/2026).

Sebelumnya, rupiah ditutup di posisi Rp 17.860.

>>> 3 Maret: Hari Satwa Liar dan Hari Pendengaran Sedunia

Mata uang Indonesia diproyeksikan melanjutkan tren positif dan bergerak fluktuatif pada perdagangan Selasa, 16 Juni 2026.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp 17.650 - Rp 17.700.

Faktor Pendorong Penguatan Rupiah

Ibrahim memaparkan bahwa penguatan rupiah didorong oleh meningkatnya peluang penghentian konflik antara AS dan Iran di Timur Tengah.

Hal ini menyusul kesepakatan awal untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Perhatian pasar kini tertuju pada pengumuman kebijakan moneter The Fed yang dipimpin oleh Ketua barunya Kevin Warsh.

>>> Ketegangan AS-Iran Mereda, Pasar Keuangan Global Menguat

Faktor internal juga turut berdampak positif setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 bps menjadi 5,50% pada akhir pekan lalu.

Turunnya harga minyak mentah dunia di bawah US$80 per barel menjadi faktor positif bagi domestik karena diharapkan mengurangi tekanan terhadap defisit APBN.

Pasar juga mencermati potensi efisiensi Anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penurunan target pembangunan Koperasi Desa Merah Putih sebesar 50%.

Kondisi eksternal yang mulai stabil memicu masyarakat menukarkan simpanan valuta asing mereka kembali ke rupiah.

>>> Mengapa One UI 9 Bisa Jadi Pembaruan Terakhir untuk Galaxy S23 Series

Ibrahim menjelaskan bahwa masyarakat berbondong-bondong menjual dolar AS sesuai imbauan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh rekor terendah di kisaran Rp 18.200 per dolar AS.