Nilai tukar rupiah mencatatkan apresiasi terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (15/6/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,85 persen ke level Rp 17.709 per dollar AS.

>>> Bahlil Usulkan Rp 815 Miliar untuk Program Kompor Listrik di RAPBN 2027

Dalam sepekan terakhir, rupiah sudah menguat 0,98 persen dari posisi akhir pekan sebelumnya di Rp 18.036 per dollar AS.

Penguatan juga terjadi pada referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor) Bank Indonesia yang naik 1,38 persen.

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, mengatakan faktor eksternal memegang peran lebih besar dalam dinamika ini.

Pelemahan dollar AS terjadi setelah muncul laporan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran.

Situasi ini memicu pelaku pasar global mengurangi kepemilikan aset berbasis dollar AS dan beralih ke aset negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meski demikian, Ariston menilai penguatan rupiah masih bersifat temporer dan belum menjadi tren jangka panjang.

"Penguatan rupiah saat ini merespons pelemahan dollar AS setelah kesepakatan damai AS dan Iran dilaporkan sudah tercapai. Kelihatannya masih sementara," ujar Ariston saat dihubungi Kompas.

com.

Ia menambahkan bahwa kembalinya rupiah ke area psikologis Rp 17.000 per dollar AS merupakan perbaikan dibandingkan periode sebelumnya yang sempat mendekati Rp 18.200 per dollar AS.

Namun, capaian ini belum menjadi indikator mutlak pulihnya perekonomian nasional secara menyeluruh.

Dampak jangka pendek baru terlihat pada pasar keuangan melalui membaiknya sentimen investor dan meningkatnya minat pada aset domestik.

"Rp 17.000 (per dollar AS) disebut menguat itu dibandingkan dengan angka Rp 18.000. Penurunan harga barang biasanya tidak secepat itu," paparnya.