Diversifikasi ke sektor energi menjadi langkah strategis di tengah tekanan industri petrokimia global akibat kelebihan kapasitas produksi di China.

Struktur pendapatan perusahaan pun menjadi lebih kuat.

Perubahan ini mulai tercermin pada kinerja keuangan kuartal I/2026. TPIA mencatat EBIT tertinggi sepanjang sejarah sebesar US$ 468 juta dan laba bersih US$ 205 juta.

Segmen energi menjadi kontributor terbesar dengan porsi 55 persen dari pendapatan atau menyumbang EBIT sebesar US$ 556 juta.

Hal ini didukung kuatnya margin pengilangan di Singapura.

Akuisisi Aster juga memperkuat neraca TPIA melalui pencatatan bargain purchase gain sekitar US$ 1,7 miliar. Hal ini memperbesar ruang pendanaan untuk ekspansi masa depan.

Salah satu proyek utama adalah pembangunan Chlor-Alkali Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon senilai sekitar US$ 800 juta bersama Danantara dan INA.

Proyek ini ditargetkan beroperasi pada 2027.

TPIA juga memperkuat integrasi rantai bisnis lewat akuisisi jaringan ritel bahan bakar Esso di Singapura. Langkah ini mencakup pengilangan, petrokimia, hingga distribusi ritel.

>>> Kinerja Unitlink Terpuruk, Pilihan Produk Perlu Disesuaikan Profil Risiko

Perseroan mengembangkan bisnis infrastruktur melalui PT Chandra Daya Investasi (CDI) untuk menyediakan layanan energi, kepelabuhanan, logistik, penyimpanan, dan air industri.