Masyarakat di negara berpenghasilan rendah menghabiskan lebih banyak waktu untuk bekerja setiap tahunnya dibandingkan warga di negara makmur.

Fenomena ini menunjukkan ketidakmerataan kemakmuran ekonomi global. Data Our World in Time mengungkap perbedaan signifikan antara negara kaya dan miskin.

>>> Danantara Sukses Raup Rp26,55 Triliun dari Obligasi Global Perdana

Pendapatan rata-rata penduduk Swiss, misalnya, lebih dari 15 kali lipat dibandingkan penduduk Kamboja. Namun, beban waktu kerja justru berbanding terbalik.

Negara dengan PDB per kapita terendah seperti Kamboja dan Myanmar mencatat jam kerja tertinggi. Seorang karyawan di Kamboja rata-rata bekerja sekitar 2.500 jam per tahun.

Angka itu jauh berbeda dengan Swiss, di mana pekerja hanya menghabiskan kurang dari 1.600 jam setiap tahunnya.

Selisih sekitar 900 jam membuat buruh di Kamboja memiliki hari kerja lebih panjang dan minim waktu istirahat.

Produktivitas dan Teknologi Jadi Kunci

Tingkat produktivitas yang tinggi menjadi alasan utama pekerja di negara maju bisa bekerja dengan durasi lebih pendek.

>>> Tiga Bank Jepang Luncurkan Stablecoin Yen pada Maret 2027

Produktivitas diukur dari kemampuan menghasilkan nilai ekonomi lebih besar dalam satuan waktu yang sama. Pekerja yang didukung teknologi modern mampu menyelesaikan lebih banyak tugas per jam.

Sebaliknya, pekerja yang mengandalkan peralatan sederhana harus bekerja lebih lama untuk hasil setara. Peningkatan pendapatan nasional juga terbukti menurunkan durasi kerja dari waktu ke waktu.

Sejak revolusi industri 150 tahun lalu, kesejahteraan yang meningkat membuat masyarakat mampu membeli lebih banyak waktu luang.

Kemajuan teknologi, modernisasi mesin, dan metode kerja efisien sangat memengaruhi efisiensi waktu. Sektor pertanian menjadi contoh nyata perubahan pola kerja.

Dahulu petani membutuhkan tenaga dan waktu besar untuk mengolah lahan. Kini mesin modern dan bibit unggul membuat produksi pangan lebih cepat dengan hasil melimpah.

>>> Fare Desak FIFA Copot Wasit Shaun Evans dari Piala Dunia 2026

Pembatasan jam kerja yang seimbang juga berkontribusi menjaga konsentrasi tenaga kerja. Durasi terlalu panjang tanpa rehat cukup justru memicu penurunan kinerja dan produktivitas.