>>> DJP Usulkan Pagu Indikatif 2027 Sebesar Rp5,4 Triliun, Fokus pada Pengawasan

Sebagian pelaku pasar memutuskan membeli saham hanya karena tren kenaikan harga, tanpa memedulikan kondisi fundamental bisnis.

Fenomena sebaliknya juga sering terjadi, di mana investor panik dan langsung menjual saham saat harga merosot, padahal nilai bisnis perusahaan masih sangat kokoh.

Situasi ini menjadi jebakan pasar yang dipicu oleh faktor emosional, tren sesaat, serta ketakutan akan kehilangan momentum atau FOMO.

Implementasi Prinsip Investasi Buffett

Guna menghindari jebakan pergerakan harga semata, Buffett menerapkan tiga prinsip investasi yang disiplin.

Langkah pertama adalah konsisten mencari margin of safety, yaitu strategi membeli saham dengan harga yang berada jauh di bawah nilai wajarnya demi meminimalisasi risiko.

Langkah kedua, ia memprioritaskan perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif jangka panjang, seperti kepemilikan merek yang kuat atau loyalitas konsumen yang tinggi.

Langkah ketiga, Buffett selalu berinvestasi dengan orientasi jangka panjang dan mengabaikan fluktuasi harian pasar.

Strategi investasi ini tecermin nyata pada keputusan Buffett saat menyuntikkan modal ke Coca-Cola dan Apple.

Buffett mulai mengoleksi saham Coca-Cola sejak akhir era 1980-an ketika harganya masih tergolong murah dibanding nilai bisnisnya, dan aset tersebut kini menjadi salah satu portofolio terbesar di Berkshire Hathaway.

Pendekatan serupa diterapkan pada Apple, di mana Buffett melihat fundamental perusahaan teknologi ini sangat solid dengan arus kas yang kuat serta basis pelanggan yang sangat setia.

>>> Meta Kucurkan Rp 248 Triliun Demi Kejar Ketertinggalan Teknologi AI

Investor pada dasarnya perlu melihat lebih jauh ke dalam bisnis, memahami operasionalnya, dan memastikan pembelian dilakukan pada tingkat harga yang rasional jika dibandingkan dengan nilai riil perusahaan.