Meta kembali menunjukkan keseriusannya dalam persaingan kecerdasan buatan global. Perusahaan menggelontorkan dana lebih dari USD 14 miliar atau sekitar Rp 248 triliun.

Langkah besar ini diambil untuk mendatangkan Alexandr Wang serta kelompok insinyur Scale AI. Tujuannya adalah merombak total lini AI perusahaan.

>>> Produk Kopi Indonesia Catat Potensi Transaksi Rp593 Miliar di AS

Posisi Meta saat ini dinilai masih tertinggal cukup jauh di belakang raksasa teknologi lain. OpenAI, Anthropic, dan Google menjadi pesaing utama yang harus dikejar.

Pencapaian utama Wang dalam memimpin Meta Superintelligence Labs ditandai melalui peluncuran model AI bernama Muse Spark pada April lalu.

CEO Mark Zuckerberg kini memikul tanggung jawab besar untuk mengubah inovasi tersebut menjadi kesuksesan finansial.

Tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah membuktikan kemampuan perusahaan dalam menarik minat pengguna berbayar. Investor menantikan langkah nyata Meta dalam melakukan monetisasi pada produk baru berbasis AI.

"Meta perlu memberi lebih banyak bukti nyata terkait adopsi maupun komersialisasi.

Investor menantikan Meta memonetisasi produk baru yang mengutamakan AI, di luar dampak positif substansial yang diberikan AI dalam menyempurnakan model periklanan," ujar Ralph Schackart, analis di William Blair.

Kondisi pasar modal sejauh ini menunjukkan performa yang kurang impresif terhadap strategi baru Meta.

Saham Meta tercatat mengalami penurunan sebesar 18% selama 12 bulan terakhir, meskipun perusahaan sempat melaporkan pertumbuhan pendapatan sebesar 33% pada kuartal pertama.

Perjalanan Meta di industri ini bermula lewat pengenalan model Llama yang mengusung konsep open-source.

Strategi tersebut awalnya dipilih untuk membedakan diri dari para kompetitor besar yang umumnya memungut biaya lisensi.

Namun, peluncuran Llama 4 pada April 2025 menemui kegagalan besar karena tidak berhasil memikat hati para komunitas pengembang.