Akselerasi kecerdasan buatan (AI) mengubah berbagai fungsi pekerjaan secara real-time dan melahirkan bidang baru dalam waktu singkat.

Kondisi ini membuat kesuksesan bisnis bergantung pada kesiapan korporasi menyelaraskan potensi karyawan dengan teknologi.

>>> David Raya Siap Bersaing Jadi Kiper Utama Timnas Spanyol

Riset terbaru International Workplace Group (IWG) menunjukkan peran vital aspek humanis di tengah adopsi AI.

Sebanyak 90% pemimpin SDM sepakat bahwa mengabaikan kapasitas manusia dapat mengancam keberlanjutan inovasi bisnis.

Fenomena ini menandai lahirnya era Ekonomi Keterampilan Manusia, yaitu ekosistem kerja yang menempatkan empati, penilaian objektif, kreativitas, dan kepemimpinan sebagai motor utama performa perusahaan.

Survei IWG terhadap ratusan pembuat keputusan di bidang SDM mencatat bahwa 73% tim kerja hibrida telah memanfaatkan solusi AI seperti ChatGPT. Selain itu, 82% perusahaan sudah memfasilitasi pelatihan AI.

Kendati demikian, para pemimpin SDM mengakui proses peningkatan kecakapan ini harus dipacu lebih cepat. Baru 45% perusahaan yang dinilai berhasil mengatasi kesenjangan kompetensi teknologi.

Data dari Randstad dan Institute of Student Employers menunjukkan penurunan lowongan kerja tingkat pemula sebesar 29% secara global sepanjang Januari 2024 hingga akhir 2025.

Alhasil, kriteria seleksi kandidat menjadi jauh lebih tinggi.

Pembeda utamanya kini terletak pada literasi AI, yaitu kecakapan dalam menerapkan teknologi untuk mendongkrak produktivitas dan melahirkan inovasi baru.

Riset IWG mengonfirmasi bahwa hampir dua pertiga pekerja muda aktif memandu rekan senior mereka mengintegrasikan AI ke sistem kerja harian.

Dalam lanskap baru ini, AI dialokasikan untuk tugas-tugas teknis yang repetitif. Sementara itu, kapabilitas manusia berfungsi menentukan arah kebijakan, kepemimpinan, dan nilai bisnis jangka panjang.

Para praktisi SDM menegaskan posisi manusia tetap tidak tergantikan karena beberapa faktor.