Sebanyak 65% menilai AI mustahil meniru empati personal manusia, 64% memandang AI masih memiliki batasan dalam memecahkan keputusan rumit, dan 53% meyakini karakter kepemimpinan akan selalu menjadi milik manusia.

>>> BPI Danantara Himpun Dana Obligasi Global Rp 26 Triliun

Di sisi lain, batasan kemampuan ini terus dinamis karena hanya sekitar 40% responden yang percaya kreativitas mutlak berada di luar jangkauan teknologi.

Hal ini mengindikasikan pergeseran cara pandang perusahaan dalam memetakan batas antara peran manusia dan mesin.

Nilai Abadi Keterampilan Manusia

Sebanyak 40% responden menyatakan minimnya penguasaan teknologi bisa menggagalkan kandidat dalam seleksi kerja.

Namun, 66% pemimpin SDM kini menempatkan kemampuan interpersonal sebagai poin krusial dalam rekrutmen, melampaui bobot pengalaman kerja, aspek teknis, maupun latar belakang pendidikan formal.

Transformasi paradigma ini juga mengubah metode rekrutmen.

Sebanyak 45% perusahaan kini mulai mengevaluasi riwayat perpindahan kuadran kerja atau jeda karier (career break) guna memahami fase perkembangan hidup dan mentalitas kandidat secara menyeluruh.

Lebih dari separuh (55%) pemimpin SDM menilai model kerja hibrida menjadi ruang paling efektif untuk mengasah empati, penilaian, serta kapabilitas kepemimpinan.

Pola kerja ini terbukti mampu memperkuat relasi antarmanusia, membangun kepercayaan, sarana bimbingan, kolaborasi, hingga pematangan fungsi pengambilan keputusan.

"Setiap pergeseran teknologi besar telah mendefinisikan ulang cara kita bekerja – mulai dari kemunculan internet, email, hingga ponsel pintar.

AI tidak berbeda, namun yang membedakan momen ini adalah kecepatan dan skala perubahannya.

Beberapa peran akan berevolusi atau menghilang, sementara peran-peran baru yang sepenuhnya berbeda akan muncul," kata Mark Dixon, CEO dan Founder International Workplace Group.

"Seperti biasa, perusahaan yang menolak transformasi akan tertinggal.

>>> EA Sports Rilis Kode Redeem FC Mobile DEBUTGIFT dan FIRSTWHISTLE

Keunggulan utama akan dimiliki oleh mereka yang menggabungkan efisiensi AI dengan keterampilan manusia yang unik dalam mendorong inovasi, kepemimpinan, dan pertumbuhan," ujar Mark Dixon.