Malam satu Suro selalu disambut dengan atmosfer berbeda oleh sebagian masyarakat Jawa melalui berbagai ritual turun-temurun.

Tradisi seperti tirakatan, doa bersama, zikir, hingga mitos larangan aktivitas tertentu masih melekat kuat di beberapa daerah.

>>> Selisih Umur  Perrie Edwards dan Alex Oxlade-Chamberlain Berapa? Inilah Biodata Penyanyi yang Resmi Menikah dengan Mantan Pemain Sepakbola Usai 4 Tahun Bertunangan

Perayaan ini bertepatan dengan 1 Muharram yang menandai awal tahun baru dalam kalender Hijriah. Keberadaan mitos tersebut memicu pertanyaan mengenai landasan syariatnya dalam sudut pandang agama Islam.

Masyarakat Jawa menyerap istilah Suro dari kata Asyura, yaitu hari kesepuluh pada bulan Muharram.

Berdasarkan literatur sejarah, kata tersebut lambat laun bergeser menjadi penyebutan untuk keseluruhan bulan pertama Hijriah.

Dalam kacamata syariat, Muharram merupakan satu dari empat bulan mulia atau al-asyhur al-hurum yang diistimewakan Allah SWT.

Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan."

(QS At-Taubah: 36)

Kemuliaan bulan Muharram tidak serta-merta mengonfirmasi kebenaran segala mitos yang berkembang di masyarakat. Kebudayaan Jawa memosisikan malam satu Suro sebagai pematang tahun, sehingga melahirkan banyak simbol pembatasan diri.

Menakar Ragam Mitos Suro dalam Pandangan Fikih

Mitos pertama yang berkembang adalah larangan keluar rumah karena dianggap sebagai waktu berkeliarannya energi gaib.

Ajaran Islam menegaskan bahwa seluruh waktu adalah ciptaan Allah dan tidak ada hari yang secara mandiri membawa kesialan.

Mitos kedua berupa larangan berbicara keras atau membuat kegaduhan, yang berkaitan dengan tradisi Tapa Bisu di Yogyakarta.

Pembatasan ucapan ini bernilai positif untuk menjaga lisan, tetapi diam bukanlah kewajiban khusus pada malam satu Suro melainkan anjuran umum setiap saat.