Gelombang penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam produksi video mulai menggeser struktur kerja industri kreatif. Lonjakan produktivitas terjadi, namun kebutuhan tenaga kerja konvensional menurun.

Proses yang sebelumnya memakan waktu panjang dan melibatkan banyak peran kini dapat diringkas menjadi satu alur berbasis perintah teks.

>>> Danantara Investment Management Terbitkan Global Bond Perdana US$1,5 Miliar

Dampaknya dirasakan kreator individu maupun perusahaan yang mengintegrasikan AI untuk menekan biaya dan mempercepat output.

Perubahan Pola Kerja dan Adaptasi

Pakar Digital Branding Soegimitro menilai perubahan utama terletak pada pola kerja, bukan sekadar teknologi. Menurutnya, kemampuan memanfaatkan AI menjadi faktor penentu nilai tenaga kerja di industri kreatif.

"Yang enggak mau belajar AI pasti akan dikeluarkan. Yang bisa menguasai AI digaji tinggi," katanya.

Dia menegaskan AI seharusnya menjadi alat yang memperkuat kapasitas profesional, bukan sepenuhnya menggantikan manusia.

Efisiensi menjadi dampak paling nyata.

Tugas yang sebelumnya membutuhkan waktu berhari-hari kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit jika pengguna memahami cara kerja teknologi tersebut.

Fenomena ini melahirkan konsep "one man studio", di mana satu individu mampu menjalankan berbagai fungsi produksi sekaligus.

>>> Disdik Jateng Buka Pendaftaran SPMB SMA dan SMK Negeri 2026

Peran penulis naskah, ilustrator, editor video, hingga komposer musik dapat dijalankan secara simultan dengan bantuan AI.

Soegimitro mengaku produktivitas kerjanya meningkat signifikan. "Saya sekali buka laptop bisa menyelesaikan 10 pekerjaan bersamaan," ujarnya.

Tantangan Hak Cipta dan Nilai Karya

Kemudahan ini juga memunculkan persoalan baru, terutama terkait hak cipta dan kekayaan intelektual. Banyak kreator dinilai belum memahami batas penggunaan aset digital yang dilindungi hukum.

Penggunaan tokoh publik, karakter populer, atau elemen visual tertentu tanpa izin berpotensi menimbulkan sengketa hukum. Risiko ini meningkat seiring semakin mudahnya produksi konten berbasis AI.

Menurut Soegimitro, di tengah banjir konten, keunggulan tidak lagi ditentukan oleh kemampuan teknis produksi. Nilai karya saat ini bergeser pada orisinalitas ide, kekuatan karakter, serta kepemilikan kekayaan intelektual.

"Yang mahal nanti adalah IP atau kekayaan intelektualnya," kata Soegimitro.

>>> Mahasiswa Unair Diduga Korupsi Dana KIP-K Rp 97 Juta

Kemampuan menciptakan identitas dan cerita yang kuat akan menjadi pembeda utama di tengah kompetisi konten yang semakin padat.