Pembacaan Surat Yasin sebanyak tiga kali menjadi tradisi yang digelar banyak masjid, mushala, majelis taklim, hingga keluarga muslim di Indonesia saat memasuki malam 1 Muharram.

Tradisi ini sudah sangat akrab di tengah masyarakat, khususnya di kalangan Nahdlatul Ulama (NU), sehingga sering dianggap sebagai bagian tidak terpisahkan dari peringatan Tahun Baru Islam.

>>> Belgia vs Mesir di Piala Dunia 2026 Diprediksi Sengit Sejak Menit Awal

Pergantian tahun Hijriah dimaknai sebagai momentum muhasabah, doa, dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

Dilansir dari Cahaya, pembacaan Surat Yasin tiga kali pada malam Tahun Baru Islam merupakan tradisi yang berkembang di kalangan masyarakat muslim sebagai sarana berdoa dan memohon keberkahan kepada Allah SWT.

Tradisi ini memang tidak ditemukan secara khusus dalam hadis yang memerintahkan pembacaan Yasin tiga kali pada malam 1 Muharram.

Namun, para ulama memandangnya sebagai amalan yang baik karena berisi pembacaan Al-Qur'an, doa, zikir, serta harapan kepada Allah SWT.

Keutamaan Bulan Muharram

Dalam kalender Hijriah, Muharram merupakan bulan pertama sekaligus salah satu dari empat bulan mulia (al-asyhur al-hurum) yang dimuliakan Allah SWT.

Allah berfirman: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram (mulia)."

(QS At-Taubah: 36).

Malam 1 Muharram sering dimaknai sebagai waktu untuk melakukan evaluasi diri karena menjadi awal tahun dalam penanggalan Islam.

Umat Islam diajak melihat kembali perjalanan hidup selama setahun terakhir sekaligus menyusun harapan dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin menjelaskan bahwa muhasabah merupakan amalan penting bagi seorang mukmin.