>>> Pantai Gading Cetak Sejarah Baru di Piala Dunia 2026 Usai Tekuk Ekuador

Para federasi menegaskan bahwa setiap laga di putaran final memiliki nilai yang sangat besar.

Kritik dari Ceferin dianggap tidak menghargai perjuangan tim-tim yang telah lolos.

"Bagi negara-negara kami, tidak ada pertandingan Piala Dunia yang tidak penting," tegas 13 federasi sepak bola.

Pernyataan bersama tersebut juga mengingatkan bahwa empat negara di antaranya baru menjalani debut, sementara Haiti dan Republik Demokratik Kongo harus menunggu lebih dari setengah abad untuk kembali tampil.

Pengorbanan para pemain dan pelatih dinilai telah dicederai oleh pernyataan tersebut.

"Menilai pertandingan-pertandingan tersebut sebagai sesuatu yang kurang penting sangat mengecewakan dan menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap kerja keras, pengorbanan, serta harapan para pemain, pelatih, klub, pemimpin sepak bola, dan pendukung di seluruh dunia," tulis 13 federasi sepak bola.

Sepak Bola Milik Semua

Lebih lanjut, koalisi 13 negara ini menolak anggapan kekuasaan eksklusif negara tertentu dalam ekosistem sepak bola global.

Keberagaman budaya justru menjadi pilar utama dari turnamen akbar empat tahunan ini.

"Sepak bola bukan milik sekelompok negara tertentu. Kekuatan olahraga ini berasal dari sifatnya yang universal," tambah 13 federasi sepak bola.

Mereka menegaskan bahwa keindahan turnamen ini terletak pada persatuan dari berbagai latar belakang sejarah yang berbeda di dunia.

Pesan kuat ini menjadi penutup dari sikap resmi yang mereka layangkan kepada pihak UEFA.

>>> Link Live Streaming Swedia vs Tunisia di Piala Dunia 2026 Grup F

"Piala Dunia FIFA menjadi kompetisi sepak bola terbesar di dunia justru karena mempertemukan budaya yang berbeda, sejarah yang berbeda, dan perjalanan sepak bola yang berbeda pula," tutup 13 federasi sepak bola.