"Justru karena terlalu banyak minum air putih tanpa elektrolit. Natrium darah turun drastis. Bisa menyebabkan kejang dan kematian," ujar Ngabila.

Rabdomiolisis Akibat Aktivitas Fisik Berlebihan

Kondisi lain yang perlu diwaspadai adalah rabdomiolisis, yakni kerusakan otot berat akibat aktivitas fisik yang melampaui kemampuan tubuh.

Apabila tidak segera mendapatkan penanganan medis, kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal ginjal akut.

Stroke Juga Dapat Menyerang Pelari

Meski kasusnya lebih jarang dibandingkan penyebab lain, stroke tetap berpotensi terjadi saat maraton, terutama pada peserta yang memiliki faktor risiko tertentu.

Karena itu, peserta lomba dianjurkan untuk segera menghentikan aktivitas apabila mulai merasakan gejala yang tidak normal selama berlari.

Kenali Tanda Bahaya Saat Berlari

Beberapa keluhan yang perlu mendapat perhatian segera antara lain:

  • Nyeri dada.
  • Sesak napas yang tidak biasa.
  • Pusing berat.
  • Pandangan mulai gelap.
  • Detak jantung tidak teratur.
  • Kebingungan atau sulit berkonsentrasi.
  • Mual berat.
  • Kram yang menyebar ke seluruh tubuh.

Ngabila mengingatkan agar pelari tidak memaksakan diri demi menyelesaikan perlombaan ketika tanda-tanda tersebut muncul.

"Jangan malu keluar lintasan," kata Ngabila.

Ia menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama dibandingkan pencapaian waktu maupun perolehan medali.

"Jika Anda sakit, kehilangan medali jauh lebih baik daripada kehilangan nyawa," ujarnya.

Peristiwa yang terjadi dalam BTN Jakarta International Marathon 2026 menjadi pengingat penting bahwa persiapan fisik, pemeriksaan kesehatan, serta kemampuan mengenali gejala bahaya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari olahraga berintensitas tinggi seperti maraton.