"Diogo adalah cahaya kami," kata Roberto Martinez.

Menurut Martinez, Jota merupakan contoh murni dari kegigihan dan impian besar untuk memenangkan gelar juara dunia bagi negaranya.

"Diogo adalah panutan kami dalam keinginan atau kebutuhan untuk mewujudkan mimpinya, yaitu memenangkan gelar untuk Portugal, seperti yang ia lakukan saat memenangkan Nations League.

Ia adalah bagian besar dari apa yang kami bangun di ruang ganti," kata Martinez.

Sebelum mengalami kecelakaan fatal, Jota sempat melewatkan kesempatan tampil di Piala Dunia 2022 akibat cedera betis parah saat membela Liverpool melawan Manchester City pada Oktober 2022.

"Dia ingin memenangkan Piala Dunia sehingga hal itu menjadi semacam tanggung jawab, sebuah teladan, karena Diogo adalah contoh murni dari keyakinan akan segala kemungkinan, selalu dengan kegigihan itu, selalu menemukan jawaban pada saat yang tepat di momen-momen sulit dalam pertandingan," kata Martinez.

Manajer Liverpool saat itu, Jurgen Klopp, langsung mengkhawatirkan kondisi sang penyerang sesaat setelah insiden jatuh di lapangan Anfield tersebut terjadi.

"Jika Diogo tetap terbaring di lapangan, itu bukanlah pertanda baik," ujar Jurgen Klopp.

Klopp sempat berbincang singkat dengan Jota pascapertandingan dan menyadari bahwa cedera yang dialami pemain asal Portugal itu sangat serius.

"Dia anak yang sangat cerdas, jadi saya rasa dia sudah menyadarinya saat kami membawanya keluar lapangan.

Ketika kami berpapasan setelah pertandingan, saya berbincang dengannya sebentar, dan dia menjelaskan apa yang terjadi.

Saya rasa pada saat itu dia sudah tahu bahwa itu [cedera] serius," kata Klopp.

Melalui media sosial, Jota mengekspresikan kekecewaan mendalam karena impian besarnya untuk berlaga di Piala Dunia pertamanya harus runtuh di menit-menit akhir laga.