“Fokus perusahaan adalah mempercepat pelayanan kapal dan barang sehingga turnaround time semakin kompetitif,” ujarnya.

Langkah ini diproyeksikan menambah waktu pelayaran kapal akibat berkurangnya waktu tunggu di pelabuhan. Efisiensi juga memotong biaya operasional perusahaan pelayaran, termasuk bahan bakar dan biaya kru.

Berdasarkan Logistic Performance Index (LPI) 2022, rata-rata waktu putar kapal di pelabuhan Indonesia mencapai 1,8 hari.

Durasi ini terpaut dari Singapura (1,2 hari) dan Vietnam (0,9 hari).

Fiona menambahkan bahwa pengelolaan terminal di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan selalu memprioritaskan efisiensi operasional, produktivitas, keselamatan, dan mutu pelayanan.

>>> Geopolitik Global Picu Fluktuasi Harga Emas Sepekan ke Depan

Sejumlah cabang melampaui target, seperti Pontianak–Terminal Kijing, Tanjung Priok, Teluk Bayur, dan Bengkulu.

PTP Nonpetikemas menerapkan digitalisasi Pelindo Terminal Operating System Multipurpose (PTOS-M) sebagai strategi efisiensi. Inisiatif lain mencakup standardisasi proses kerja, optimalisasi alat bongkar muat, dan pemanfaatan terminal strategis.

Fiona memaparkan bahwa pengguna jasa mulai merasakan pemangkasan rantai distribusi dan berkurangnya waktu tunggu barang. “Peningkatan efisiensi operasional secara langsung berkontribusi pada pengurangan biaya logistik pengguna jasa,” tambahnya.

Optimalisasi Efisiensi Melalui Terminal Kijing

Terminal Kijing yang beroperasi sejak 2022 menjadi wujud konkret program efisiensi pelabuhan. Infrastruktur ini memiliki kedalaman kolam 15 meter dengan panjang dermaga lebih dari 1.900 meter.

Hingga 2026, Terminal Kijing menunjukkan pertumbuhan performa signifikan dan berdampak luas bagi perekonomian Kalimantan Barat.

Sepanjang 2025, Cabang Pontianak-Terminal Kijing menorehkan pertumbuhan tahunan throughput tertinggi di internal PTP Nonpetikemas sebesar 46% dengan total volume 4,5 juta ton.

Terminal Kijing terhubung langsung dengan ALKI I dan dekat jalur pelayaran internasional Selat Malaka.