“Kehadiran Terminal Kijing mengurangi ketergantungan arus logistik Kalimantan Barat terhadap pelabuhan utama di Pulau Jawa sehingga distribusi barang lebih efisien,” ujar Fiona.

Pada kuartal I/2026, Terminal Kijing mencatat total throughput sekitar 1,5 juta ton, didominasi curah kering 845.000 ton dan curah cair 662.000 ton.

Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Pontianak Suwanda menjelaskan bahwa fasilitas ini memegang peran krusial dalam menstimulasi pertumbuhan ekonomi daerah.

“Terminal Kijing menjadi urat nadi ekonomi Kalimantan Barat yang tidak hanya mendukung kelancaran arus barang, tetapi juga memperkuat ekosistem logistik nasional,” ujarnya.

Suwanda menegaskan komitmen untuk terus meningkatkan kapasitas layanan guna mempermudah ekspor komoditas andalan lokal dan memperkuat rantai pasok.

Mulai Juni 2026, Terminal Kijing memperluas jangkauan operasional dengan melayani peti kemas untuk pengiriman domestik dan ekspor.

Pemerintah menilai arah kebijakan pembangunan pelabuhan nasional sudah efisien karena berbasis kebutuhan industri (industry-driven development).

Kementerian Perhubungan kini meninjau kembali Rencana Induk Pelabuhan Nasional (KM 432 Tahun 2017) untuk meningkatkan tata kelola.

Direktur Kepelabuhanan Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub Muhammad Anto Julianto menerangkan bahwa ekspansi kapasitas ke depan akan lebih selektif.

>>> Dokter di Malaysia Salah Petik Rumput, Dikira Daun Pandan untuk Kue Ibu

“Difokuskan pada pelabuhan strategis dengan utilisasi tinggi, pertumbuhan arus barang kuat, dan peran penting dalam jaringan logistik nasional,” ujarnya.