Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengidentifikasi bakteri asam laktat probiotik dari madu dan bee pollen lebah tanpa sengat (stingless bee) asal Indonesia.

Bakteri ini memiliki berbagai aktivitas biologis penting, mulai dari antibakteri, antibiofilm, antioksidan, antikanker, hingga potensi membantu pengendalian kadar gula darah.

>>> Jadwal Libur Sekolah Semester Genap 2026 di Jakarta dan Jawa Barat Mulai Akhir Juni

Temuan ini membuka peluang pengembangan pangan fungsional dan nutribiotik berbasis keanekaragaman hayati Indonesia.

Riset dilakukan tim peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN bersama mitra dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Penelitian memanfaatkan madu dan bee pollen dari tujuh spesies lebah tanpa sengat yang berasal dari Yogyakarta dan Sumbawa.

Hasil penelitian telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Antonie van Leeuwenhoek dan International Microbiology, serta telah memperoleh pendaftaran paten dengan nomor S00202605018.

Potensi Probiotik Lokal

Peneliti PRTPP BRIN, Ema Damayanti, menjelaskan bahwa selama ini madu lebah tanpa sengat dikenal kaya senyawa bioaktif.

Namun, keberadaan mikroorganisme probiotik yang hidup di dalam madu dan bee pollen tersebut masih jarang diteliti, terutama di Indonesia.

"Kami menemukan bahwa madu lebah tanpa sengat Indonesia menyimpan bakteri asam laktat yang tidak hanya mampu bertahan pada kondisi saluran pencernaan, tetapi juga memiliki aktivitas antibakteri, antibiofilm, antikanker, dan antioksidan yang sangat baik.

Ini menunjukkan potensinya sebagai kandidat probiotik untuk pangan fungsional," ujar Ema, dikutip Minggu (14/6/2026).

Dalam penelitian tersebut, tim berhasil mengisolasi sejumlah bakteri asam laktat dari madu dan bee pollen berbagai spesies lebah tanpa sengat, antara lain Heterotrigona itama, Tetragonula laeviceps, Tetragonula clypearis, Tetragonula sarawakensis, Lepidotrigona terminata, Tetragonula drescheri, dan Tetragonula biroi.