KH Djunaidi juga menjelaskan bahwa beberapa lokasi di sekitar Ka'bah memperoleh kemuliaan khusus, termasuk Multazam yang berada di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah. Tempat itu dikenal sebagai lokasi yang diyakini memiliki keutamaan dalam berdoa.

Ia kemudian mengingatkan kisah Sayyidina Umar bin Khattab ketika mencium Hajar Aswad. Umar menegaskan bahwa batu tersebut tidak dapat memberi manfaat maupun mudarat, namun ia tetap menciumnya karena mengikuti teladan Rasulullah SAW.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa kemuliaan sesuatu terjadi karena Allah memberikan kemuliaan itu kepadanya, baik berupa tempat, benda maupun manusia.

Ukuran Kemabruran Haji

Lebih lanjut dijelaskan bahwa setiap ibadah memiliki dua sisi. Pertama adalah aspek lahiriah yang berkaitan dengan syarat dan rukun sehingga ibadah dinilai sah. Kedua adalah aspek batiniah yang menyangkut nilai dan tujuan ibadah itu sendiri.

Dalam konteks haji, seseorang bisa saja telah memenuhi seluruh ketentuan yang membuat hajinya sah. Namun, kemabruran memiliki ukuran yang lebih dalam dibanding sekadar keabsahan pelaksanaan ibadah.

Ketika Rasulullah SAW menjelaskan tentang haji mabrur, yang ditekankan bukan hanya pelaksanaan ritualnya, melainkan bagaimana seseorang menjaga diri dari perilaku yang dapat merusak nilai ibadah tersebut.

Salah satu indikatornya adalah kemampuan mencintai sesama sebagaimana mencintai diri sendiri. Sikap itu tercermin dalam perilaku yang tidak menyakiti orang lain, tidak memaksakan kehendak, serta mengedepankan kepedulian selama menjalankan ibadah.

Contoh sederhana yang disampaikan dalam khutbah adalah kesediaan mengalah demi memberi kesempatan kepada orang lain, termasuk ketika berada di sekitar Hajar Aswad.

Karena itu, ukuran kemabruran haji berkaitan erat dengan perilaku sosial. Larangan berbuat rafats, fusuq, maupun jidal selama berhaji menunjukkan bahwa kualitas hubungan dengan sesama menjadi bagian penting dalam penilaian kemabruran ibadah tersebut.

Khutbah ditutup dengan doa agar Allah SWT memberikan kekuatan kepada seluruh umat Islam untuk terus memperbaiki kualitas ibadah, termasuk bagi jamaah yang sedang menunaikan ibadah haji.