Pernahkah Anda merasa ponsel yang dibeli dua tahun lalu tiba-tiba melambat, baterai cepat habis, atau layar kurang responsif tepat setelah masa garansi berakhir?

Anda tidak sendirian. Ratusan hingga jutaan orang di seluruh dunia merasakan hal serupa.

>>> Brasil Ditahan Imbang Maroko 1-1 pada Laga Pembuka Grup C Piala Dunia 2026

Fenomena ini memunculkan pertanyaan: apakah produsen teknologi sengaja merancang smartphone agar cepat rusak? Dalam industri, konsep ini dikenal sebagai planned obsolescence atau keusangan yang direncanakan.

Planned obsolescence adalah strategi bisnis di mana produk dirancang dengan masa pakai terbatas atau fungsinya sengaja diturunkan setelah jangka waktu tertentu.

Tujuannya sederhana: memastikan siklus konsumsi tidak pernah berhenti.

Namun, menuduh produsen menanam chip rahasia yang akan merusak ponsel setelah dua tahun adalah kesimpulan yang terlalu dangkal.

Realitasnya jauh lebih kompleks, melibatkan batasan teknologi, kompromi desain, dan tuntutan konsumen.

Baterai: Komponen yang Dikorbankan demi Desain

Baterai adalah komponen yang paling sering dikeluhkan. Hampir semua smartphone modern menggunakan baterai litium ion dengan siklus hidup terbatas.

Setiap kali mengisi daya dari nol hingga seratus persen, kesehatan baterai menurun sedikit demi sedikit.

Setelah sekitar 500 hingga 800 siklus isi ulang, kapasitas maksimal baterai biasanya merosot hingga 80 persen atau kurang.

Masalahnya diperparah ketika produsen memutuskan menanamkan baterai secara permanen di dalam bodi ponsel.

Dulu, di era Nokia dan Sony Ericsson, pengguna bisa dengan mudah membuka casing belakang dan mencabut baterai yang kembung.

Kini, demi desain tipis, elegan, dan sertifikasi IP68, baterai direkatkan dengan lem industri yang kuat di dalam komponen internal yang padat.