Untuk mengganti baterai, pengguna harus membawa ponsel ke pusat servis dengan biaya tidak murah, atau berisiko merusak layar jika membongkar sendiri.

Akibatnya, banyak yang memilih membeli ponsel baru.

Keusangan Perangkat Lunak

Selain masalah fisik, ada juga keusangan perangkat lunak atau software obsolescence. Ini sering terjadi melalui pembaruan sistem operasi yang awalnya dinanti-nanti.

Pembaruan terbaru yang diunduh dengan harapan mendapatkan fitur baru justru membuat ponsel cepat panas, baterai terkuras lebih cepat, dan animasi UI terasa patah-patah.

Apakah sistem operasi sengaja dibuat berat untuk menyiksa ponsel lama?

Kenyataannya, sistem operasi baru dirancang untuk memaksimalkan prosesor terbaru.

>>> Harga Emas Perhiasan 14 Juni 2026 Stagnan di Lakuemas dan Rajaemas

Ketika sistem operasi yang kaya fitur dipaksakan berjalan di chip lama yang arsitekturnya tertinggal, performa ponsel lama akan keteteran.

Kasus besar terjadi beberapa tahun lalu ketika Apple kedapatan sengaja menurunkan performa prosesor pada iPhone 6, 7, dan SE melalui pembaruan perangkat lunak.

Apple beralasan untuk mencegah ponsel mati mendadak akibat baterai lama yang tidak mampu menyuplai daya puncak.

Meskipun alasan itu masuk akal secara teknis, kurangnya transparansi menimbulkan kecurigaan bahwa hal tersebut adalah trik psikologis agar pengguna merasa ponsel sudah lemot dan perlu diganti.

Pemilihan Material Bodi

Smartphone modern dengan bodi kaca memang terlihat premium dan menarik. Namun, kaca tetaplah kaca.

Begitu ponsel jatuh ke aspal dari ketinggian saku, keindahan itu sirna menjadi retakan yang memilukan.

Biaya perbaikan layar lengkung atau panel belakang kaca sering mencapai sepertiga dari harga beli ponsel. Lagi-lagi, pengguna dihadapkan pada pilihan: memperbaiki dengan biaya mahal atau membeli ponsel baru.