Gerakan Right to Repair dan Perubahan Tren

Tren ini mulai mendapat perlawanan dari konsumen, pemerintah, dan aktivis lingkungan melalui gerakan Right to Repair atau Hak untuk Memperbaiki.

Gerakan ini menuntut produsen menyediakan suku cadang asli, alat perbaikan, dan panduan servis dengan harga wajar.

Beberapa negara di Eropa sudah menerapkan aturan yang memaksa produsen elektronik menyertakan skor kemampuan perbaikan pada kemasan produk.

Semakin sulit ponsel dibongkar dan diperbaiki, semakin buruk skornya, yang bisa memengaruhi minat beli.

Tekanan publik dan regulasi mendorong beberapa brand melunakkan strategi. Samsung, misalnya, menjanjikan pembaruan keamanan dan sistem operasi hingga tujuh tahun untuk lini ponsel unggulan mereka.

Ini langkah maju dibandingkan beberapa tahun lalu.

Namun, janji update jangka panjang menyisakan tanda tanya: apakah komponen fisik seperti baterai, modul kamera, dan port pengisian daya bisa bertahan tujuh tahun?

Kemungkinan besar pengguna tetap perlu melakukan servis penggantian komponen setidaknya satu atau dua kali.

Kesimpulan

Jawaban atas pertanyaan apakah smartphone didesain agar cepat rusak tidak bisa hitam putih.

Ada kombinasi strategi bisnis yang memanfaatkan kelemahan alami komponen seperti baterai dan material kaca, serta laju inovasi teknologi yang cepat.

>>> Skotlandia vs Haiti di Laga Pembuka Grup C Piala Dunia 2026

Yang bisa dilakukan pengguna adalah merawat smartphone dengan baik agar tidak mudah tergoda mengganti model setiap tahun.