Krisis geopolitik di Timur Tengah memicu gangguan arus lalu lintas udara global dan mendorong lonjakan harga avtur.

Hal ini diproyeksikan membuat tiket pesawat internasional tetap mahal sepanjang tahun 2026.

>>> Insta360 Luna Ultra Resmi Meluncur Bawa Sensor Ganda Leica

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) dalam pertemuan tahunan di Rio de Janeiro, Brasil, menyatakan harga bahan bakar jet diperkirakan menembus 152 dollar AS per barel tahun ini.

Penyebabnya adalah penutupan Selat Hormuz.

Kondisi operasional yang semakin berat memaksa maskapai membebankan sebagian biaya bahan bakar kepada penumpang melalui kenaikan tarif tiket.

Tekanan pasokan avtur juga diprediksi memburuk selama musim panas karena bertepatan dengan lonjakan mobilitas masyarakat untuk Piala Dunia FIFA 2026.

Dampak pada Maskapai dan Rute Penerbangan

Senior Vice President Sustainability sekaligus Chief Economist IATA, Marie Owens Thomsen, mengatakan banyak pihak masih akan menghadapi situasi ini dalam waktu lama.

>>> Likuiditas Perbankan Indonesia Tetap Sehat per April 2026

Ia memperkirakan tarif tiket pesawat akan tetap tinggi.

IATA menilai rantai pasok minyak dunia membutuhkan waktu setidaknya empat hingga lima bulan untuk pulih sepenuhnya meskipun jalur pelayaran internasional kembali beroperasi normal.

"Butuh waktu lama sebelum harga minyak Brent kembali ke level 60 dollar AS per barel seperti pada Januari lalu," ujar Thomsen.

Penyesuaian jadwal penerbangan meluas ke berbagai maskapai dari Eropa hingga Asia.

Maskapai Yunani membatalkan penerbangan Thessaloniki-Tel Aviv hingga 26 Juni, sedangkan maskapai Spanyol Air Europa menangguhkan rute ke Tel Aviv hingga 28 Juni 2026.

>>> Timnas Haiti Kembali ke Piala Dunia 2026, Hadapi Skotlandia di Laga Pembuka

Grup Lufthansa, SWISS, Austrian Airlines, dan Brussels Airlines turut memperpanjang penangguhan rute ke sejumlah kota besar seperti Abu Dhabi, Amman, Beirut, Dammam, Riyadh, Erbil, Muscat, dan Teheran hingga 24 Oktober.