Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melayangkan ancaman keras terhadap Iran.

Melalui media sosial pada Kamis (11/6/2026), ia menyatakan akan melancarkan serangan dan menguasai industri minyak serta gas Iran.

>>> Pasar Obligasi Korporasi Dinilai Lebih Menguntungkan Investor

Peringatan ini muncul di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang semakin memanas. Kedua negara telah saling melancarkan serangan selama dua hari berturut-turut.

Militer AS meningkatkan intensitas agresi dengan menargetkan kemampuan pengawasan militer Iran, sistem komunikasi, dan situs pertahanan udara.

Langkah ini diiringi pengetatan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta penonaktifan satu kapal tanker yang diduga menyelundupkan minyak.

Dampak pertempuran telah menimbulkan korban jiwa dari pihak ketiga. Pemerintah India mengonfirmasi tiga pelautnya tewas akibat serangan AS terhadap kapal dagang mereka di awal pekan.

Sebagai balasan, Iran menembakkan rudal ke wilayah Kuwait, Bahrain, dan Yordania. Akibatnya, seorang anak berusia 11 tahun di Bahrain terluka karena serpihan rudal.

>>> Pemerintah Antisipasi Peralihan Konsumen dari Pertamax ke Pertalite

Eskalasi militer ini memperparah kebuntuan jalur diplomatik, terutama terkait perselisihan program nuklir Iran dan penutupan Selat Hormuz. Kondisi itu telah memicu lonjakan harga energi global.

Konflik yang pecah sejak 28 Februari lalu dipicu oleh kekhawatiran AS dan Israel atas percepatan pengayaan uranium Iran.

Situasi semakin rumit dengan keterlibatan kelompok proksi seperti Hizbullah.

Trump mengancam akan mengambil alih kendali penuh atas industri minyak dan gas Iran, termasuk fasilitas strategis di Pulau Kharg.

>>> QJMotor Indonesia Luncurkan Program Trip Eksklusif ke China di PRJ 2026

Ancaman ini disampaikan dengan nada sangat keras.