Di tengah dunia yang semakin terhubung, krisis global seperti kesehatan, lingkungan, dan keterbatasan sumber daya tidak lagi terasa jauh.

Generasi muda dituntut untuk tidak hanya memahami permasalahan, tetapi juga mampu berdiplomasi dan mencari solusi bersama.

>>> Flavor Shake-Up Wingstop: Paket 3-in-1 Praktis dengan Rasa dari Gurih hingga Pedas

Salah satu wadah yang menyediakan ruang tersebut adalah Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) BSD Chapter, yang digelar pada 18–19 Juli 2026 di Harris Hotel & Convention Serpong, Tangerang Selatan.

Konferensi simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa ini diikuti oleh 270 pelajar dari 165 sekolah dan universitas di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jabodetabek, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Jambi, Palembang, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, hingga Manado.

Keberagaman latar belakang peserta menjadi bagian penting dari proses pembelajaran, di mana mereka belajar memahami bahwa satu persoalan dapat memiliki dampak berbeda bagi setiap negara dan kelompok masyarakat.

Mengasah Kemampuan Berpikir Kritis dan Negosiasi

Mengusung tema "Ethnics in Crisis: Navigating Rights, Risks, and Responsibility in the Globalized Era", konferensi ini menghadirkan dua council utama.

Pertama, World Health Organization (WHO) dengan topik "Battling Misuse of Prescription Drugs", dan kedua, United Nations Environment Programme (UNEP) dengan topik "Exploring Sustainable Water Management Practices and Water-saving Technologies".

Melalui isu-isu tersebut, peserta tidak hanya diminta untuk mengetahui permasalahan, tetapi juga menganalisisnya dari berbagai perspektif.

Dalam simulasi sidang, para peserta berperan sebagai delegasi negara dan terlibat dalam diskusi, negosiasi, hingga penyusunan Draft Resolutions yang meniru proses persidangan United Nations.

Setiap argumen diuji melalui dialog, sementara perbedaan pandangan menjadi bagian penting dari proses menemukan titik temu.