BAKTI Komdigi Terima 160 Ribu Usulan Akses Internet dari Seluruh Indonesia
Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat sekitar 160 ribu usulan titik pembangunan layanan internet dari seluruh Indonesia.
Jumlah tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan konektivitas masyarakat yang belum terpenuhi. Direktur Utama BAKTI, Fadhilah Mathar, menyampaikan data itu saat berada di Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
>>> Akrobat Digital Warga Rusia demi Menembus Tirai Besi Internet
"Sekarang itu di BAKTI, kami ada sekitar 160 ribu usulan. Bayangkan, seluruh Indonesia," ujar Fadhilah Mathar.
Usulan tersebut sebagian besar berasal dari aparatur daerah dan kelompok masyarakat sipil. Bupati, dinas Komdigi, hingga gubernur turut mengajukan permohonan penyediaan jaringan internet.
BAKTI menerapkan indikator penilaian ketat terhadap setiap lokasi yang diusulkan. Faktor ketersediaan anggaran dan skala prioritas kebutuhan masyarakat menjadi pertimbangan utama.
"Jadi kami bangun tergantung satu, apakah betul mereka perlu internet atau enggak. Yang kedua anggaran.
Kalau anggaran sudah ada, kapasitas ada, kita bangun," kata Fadhilah.
>>> AI Seoul Deteksi Percobaan Bunuh Diri di Jembatan Sungai Han
Biaya pembangunan infrastruktur bervariasi tergantung kondisi geografis. Di Papua, misalnya, biaya bisa mencapai Rp1 miliar hingga Rp3 miliar per titik.
Tingginya biaya membuat pengerjaan tidak selalu dibebankan pada BAKTI pusat. Pemerintah daerah juga dapat membangun jaringan secara mandiri jika anggaran tersedia.
Sebagai langkah strategis, BAKTI telah menyusun peta kebutuhan konektivitas nasional. Peta itu mencakup sekitar 2.000 titik blank spot beserta perkiraan biaya dan teknologi yang diperlukan.
"Nanti tinggal pemerintah yang memprioritaskan apakah akan dibangun tahun 2027-2028," papar Fadhilah.
>>> 17 Fitur dan Keunggulan Google Colab untuk Coding Python
Selain pemda, pihak swasta juga dilibatkan melalui kewajiban hukum perusahaan telekomunikasi. Operator seluler yang mengambil frekuensi harus membangun di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
Update Terbaru
Pemain Timnas Jerman Patungan Biayai Bus Gratis untuk 600 Suporter
Sabtu / 13-06-2026, 21:05 WIB
Kemenkeu Evaluasi APBN Usai Tuntutan BEM UI Soal Pemborosan
Sabtu / 13-06-2026, 21:05 WIB
Otak Sering Memprediksi Suara hingga Picu Salah Dengar
Sabtu / 13-06-2026, 21:04 WIB
Investor Pilih Jual Saham Akibat Ketidakpastian Kebijakan dan Sentimen Geopolitik
Sabtu / 13-06-2026, 21:03 WIB
Ancelotti Instruksikan Brasil Tampil Sempurna Hadapi Maroko
Sabtu / 13-06-2026, 21:01 WIB
Wuling Buka Pemesanan Awal Mobil Listrik Aira EV di Jakarta
Sabtu / 13-06-2026, 21:00 WIB
Tiga Wakil Indonesia Lolos ke Final Australian Open 2026
Sabtu / 13-06-2026, 20:57 WIB
Sony Tambah Varian Warna Sandstone untuk Headphone WH-1000XM6
Sabtu / 13-06-2026, 20:57 WIB
Australia Fokus Pemulihan Fisik Jelang Final Piala AFF U19
Sabtu / 13-06-2026, 20:56 WIB
Analisis Statistik Unggulkan Brasil Atas Maroko di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Sabtu / 13-06-2026, 20:56 WIB
Timnas U-19 Indonesia Bidik Medali Perunggu Piala AFF 2026
Sabtu / 13-06-2026, 20:52 WIB
Review Fasilitas Premium vs Tribun Standar Stadion Piala Dunia
Sabtu / 13-06-2026, 20:48 WIB
Meksiko dan AS Puncaki Klasemen Grup Piala Dunia 2026
Sabtu / 13-06-2026, 20:48 WIB
Fasilitas Premium vs Tribun Biasa di Stadion Piala Dunia: Mana yang Lebih Unggul?
Sabtu / 13-06-2026, 20:47 WIB






