BAKTI Komdigi Terima 160 Ribu Usulan Akses Internet dari Seluruh Indonesia
Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat telah menerima sekitar 160 ribu usulan titik pembangunan layanan internet dari seluruh Indonesia.
Direktur Utama BAKTI, Fadhilah Mathar, menyebutkan angka tersebut saat ditemui di Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Jumat (12/6).
>>> Transmart Full Day Sale 14 Juni 2026: Diskon Peralatan Makan hingga 50%+20%
"Sekarang itu di BAKTI, kami ada sekitar 160 ribu usulan. Bayangkan, seluruh Indonesia," ujarnya.
Meski permintaan tinggi, realisasi pembangunan infrastruktur harus melalui seleksi ketat. BAKTI mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan ketersediaan anggaran.
"Jadi kami bangun tergantung satu, apakah betul mereka perlu internet atau enggak. Yang kedua anggaran.
Jadi kalau anggaran sudah ada, kapasitas ada, kita bangun," kata Fadhilah.
Usulan titik akses berasal dari masyarakat dan pemerintah daerah, termasuk bupati, dinas Komdigi, hingga gubernur.
Biaya pembangunan bervariasi tergantung kondisi geografis. Di Papua, misalnya, biaya bisa mencapai Rp1 miliar hingga Rp3 miliar per titik.
Pemerintah Daerah Didorong Mandiri
Fadhilah menekankan bahwa penyediaan jaringan tidak harus sepenuhnya bergantung pada BAKTI. Pemerintah daerah dengan anggaran memadai dapat membangun sendiri.
>>> 4 Proyektor Mini Murah untuk Nobar Piala Dunia 2026, Harga Mulai Rp500 Ribuan
"Kalau anggarannya tersedia, sebenarnya nggak harus selalu dibangun oleh BAKTI. Boleh oleh Pemda.
Kan ada beberapa yang memang sudah dibangun oleh Pemda," ujarnya.
BAKTI juga telah menyerahkan dokumen pemetaan kebutuhan konektivitas nasional kepada pemerintah pusat. Rencana tersebut mencakup identifikasi blank spot dan opsi pembiayaan.
"Seluruh Indonesia, kemarin saya sampaikan ada sekitar 2 ribu titik.
Kita sampaikan bahwa blank spot-nya seperti ini, kondisi pembiayanya yang diperlukan adalah sekian, teknologinya ini, nanti tinggal pemerintah yang memprioritaskan apakah akan dibangun tahun 2027-2028," paparnya.
Pemenuhan jaringan di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) juga menjadi tanggung jawab operator seluler pemenang lisensi frekuensi. Mereka wajib membangun infrastruktur di sana.
"Dan nggak harus melalui anggaran BAKTI karena ada juga melalui komitmen pembangunan.
>>> Pelatih Thailand Siapkan Strategi Khusus Hadapi Australia di Final Piala AFF U19
Kalau misalnya frekuensi diambil oleh salah satu operator seluler, mereka harus membangun wilayah 3T, itu sudah ditetapkan," kata Fadhilah.
Update Terbaru
Pemain Timnas Jerman Patungan Biayai Bus Gratis untuk 600 Suporter
Sabtu / 13-06-2026, 21:05 WIB
Kemenkeu Evaluasi APBN Usai Tuntutan BEM UI Soal Pemborosan
Sabtu / 13-06-2026, 21:05 WIB
Otak Sering Memprediksi Suara hingga Picu Salah Dengar
Sabtu / 13-06-2026, 21:04 WIB
Investor Pilih Jual Saham Akibat Ketidakpastian Kebijakan dan Sentimen Geopolitik
Sabtu / 13-06-2026, 21:03 WIB
Ancelotti Instruksikan Brasil Tampil Sempurna Hadapi Maroko
Sabtu / 13-06-2026, 21:01 WIB
Wuling Buka Pemesanan Awal Mobil Listrik Aira EV di Jakarta
Sabtu / 13-06-2026, 21:00 WIB
Tiga Wakil Indonesia Lolos ke Final Australian Open 2026
Sabtu / 13-06-2026, 20:57 WIB
Sony Tambah Varian Warna Sandstone untuk Headphone WH-1000XM6
Sabtu / 13-06-2026, 20:57 WIB
Australia Fokus Pemulihan Fisik Jelang Final Piala AFF U19
Sabtu / 13-06-2026, 20:56 WIB
Analisis Statistik Unggulkan Brasil Atas Maroko di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Sabtu / 13-06-2026, 20:56 WIB
Timnas U-19 Indonesia Bidik Medali Perunggu Piala AFF 2026
Sabtu / 13-06-2026, 20:52 WIB
Review Fasilitas Premium vs Tribun Standar Stadion Piala Dunia
Sabtu / 13-06-2026, 20:48 WIB
Meksiko dan AS Puncaki Klasemen Grup Piala Dunia 2026
Sabtu / 13-06-2026, 20:48 WIB
Fasilitas Premium vs Tribun Biasa di Stadion Piala Dunia: Mana yang Lebih Unggul?
Sabtu / 13-06-2026, 20:47 WIB






