Para pemimpin agama dunia menyerukan penguatan peran dalam mencegah konflik global dan membentengi generasi muda dari ekstremisme.

Seruan ini disampaikan dalam Konferensi Tingkat Tinggi Pemimpin Agama Internasional ke-3 di Kuala Lumpur Convention Center, Malaysia, Jumat (12/6/2026).

>>> Marc Marquez Enggan Gegabah Masuk Bursa Juara Dunia MotoGP 2026

Pertemuan bertema "Religious Leaders and Youth Empowerment" tersebut dihadiri sekitar 2.000 peserta muda dari berbagai latar belakang agama dan budaya.

Sekretaris Jenderal Muslim World League, Mohammed Al-Issa, memimpin pembahasan dengan menekankan urgensi konsep perdamaian preventif.

Ia menilai konsep ini penting untuk menghentikan perselisihan sebelum pecah menjadi peperangan terbuka di tengah meningkatnya ketegangan global saat ini.

"Umat manusia tidak diuji setelah perang meletus, tetapi sebelum perang itu dimulai.

Dunia tidak membutuhkan lebih banyak pahlawan yang memenangkan perang, melainkan orang-orang bijak yang mampu mencegahnya," ujar Al-Issa.

Al-Issa mengingatkan bahwa kebencian berbasis agama, Islamofobia, rasisme, dan sektarianisme kini kerap dieksploitasi oleh kelompok ekstremis serta aktor politik melalui media digital.

Hal ini menyasar generasi muda.

"Harmoni sejati bukanlah memadamkan api konflik, tetapi mencegahnya menyala sejak awal," kata Al-Issa.

Diplomasi agama dinilai Al-Issa dapat melengkapi diplomasi politik konvensional untuk menjembatani perbedaan budaya. "Dunia tidak membutuhkan lebih banyak senjata, melainkan lebih banyak kebijaksanaan untuk mencegah penggunaannya," ujarnya.

Al-Issa juga menegaskan dukungan atas solusi dua negara untuk konflik Palestina dan meluncurkan International Diplomacy Award.

>>> Harga Emas Antam 13 Juni 2026 Naik Jadi Rp 2.711.000 Per Gram

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menyoroti fragmentasi geopolitik dunia serta melemahnya lembaga multilateral. Menurutnya, hal itu membuat peran tokoh agama sebagai otoritas moral menjadi krusial.