Kemunculan biawak di kawasan permukiman semakin sering terjadi dan memicu respons cepat dari warga. Banyak masyarakat menganggap kehadiran satwa liar ini sebagai gangguan yang harus segera ditangani.

Fenomena ini tidak sesederhana kehadiran hewan liar di ruang aktivitas manusia.

>>> Kejagung Tetapkan Komisaris PT YAT Tersangka Korupsi Badan Gizi Nasional

Persoalan tersebut berkaitan erat dengan latar belakang kawasan hunian yang banyak berdiri di atas bekas lahan rawa, sawah, atau ruang terbuka hijau.

Alih fungsi lahan yang terus berjalan memberikan dampak jangka panjang terhadap lingkungan. Pembangunan rumah dan pendirian pagar secara perlahan merampas ruang hidup alami yang menjadi habitat berbagai spesies.

Kedatangan biawak ke lingkungan perumahan merupakan bentuk upaya bertahan hidup dari satwa yang kehilangan tempat tinggalnya. Binatang tersebut berusaha menyesuaikan diri di tengah ruang gerak yang kian menyusut.

Sayangnya, masyarakat cenderung memberikan respons reaktif dengan langsung mengusir atau memburu satwa tersebut.

Cara pandang ini menempatkan manusia sebagai pusat kendali tunggal atas ruang yang boleh ditempati makhluk hidup.

Kondisi yang bertolak belakang justru melanda kawasan perairan dengan melonjaknya populasi ikan sapu-sapu. Spesies asing yang berasal dari Sungai Amazon ini bukan merupakan bagian dari ekosistem asli setempat.

Ikan ini awalnya didatangkan sebagai hewan peliharaan, namun kerap dilepasliarkan ke perairan umum saat pemiliknya tidak lagi menginginkannya.

Spesies tersebut memiliki tingkat daya tahan yang sangat tinggi serta kemampuan adaptasi yang kuat.

Populasi ikan sapu-sapu berkembang sangat pesat di perairan Indonesia karena tidak adanya predator alami yang mampu mengendalikan pertumbuhan mereka.

Akibatnya, keseimbangan ekosistem air perlahan-lahan mulai terganggu.

>>> Mengapa Split Bill Terkadang Lebih Nyaman daripada Ditraktir