Mengapa Afrika?" kata Julien Kouadio Adonis, Komite Nasional Pendukung Timnas Pantai Gading.

>>> Veda Ega Pratama Duduki Peringkat Keenam Klasemen Moto3 2026

Akibat aturan yang dinilai tidak adil ini, organisasi pendukung Pantai Gading memutuskan untuk membatalkan pengiriman rombongan suporter mereka ke Amerika Serikat.

"Sepakbola adalah sebuah pertunjukan, dan pertunjukan membutuhkan penonton," kata Julien Kouadio Adonis.

Keluhan mengenai penolakan dokumen pengajuan visa ini juga dialami oleh perwakilan resmi asosiasi suporter dari negara timur tengah.

"Dalam tiga hingga empat bulan terakhir, banyak permohonan ditolak. Jika ketua asosiasi suporter saja ditolak, lalu siapa yang akan diterima?"

kata Abu Kass, Ketua Asosiasi Suporter Yordania.

Abu Kass mengungkapkan kekecewaannya lantaran permohonan visanya tetap berujung pada penolakan walaupun ia sudah membawa puluhan dokumen pendukung saat proses wawancara.

Tanggapan Praktisi Hukum dan Pemerintah AS

Kondisi regulasi yang ketat ini kemudian ditanggapi oleh praktisi hukum imigrasi yang menjelaskan mengenai batasan wewenang dokumen turnamen.

"FIFA bisa menjual tiket, tetapi pemerintah AS yang menentukan siapa yang mendapatkan visa," ujar Celine Atallah, Pengacara Imigrasi.

Atallah menegaskan bahwa kepemilikan FIFA Pass memang berfungsi untuk mempercepat jadwal wawancara, tetapi sistem tersebut sama sekali tidak memberi jaminan persetujuan visa.

Merespons gelombang kritik tersebut, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan resmi terkait kesiapan mereka menyambut pengunjung turnamen.

>>> Sparta Rotterdam Nego Ragnar Oratmangoen Usai Dilepas FCV Dender

Pemerintah Amerika Serikat menyatakan tetap siap menyambut kedatangan suporter global, namun menegaskan pemeriksaan ketat pada tiap permohonan visa mutlak dilakukan demi keamanan negara.