Ribuan pendukung dari berbagai negara peserta Piala Dunia 2026 terancam gagal menyaksikan pertandingan secara langsung di Amerika Serikat akibat kendala pengurusan visa kunjungan yang ketat.

Masalah pengetatan perjalanan dan tingginya angka penolakan ini terungkap melalui hasil analisis BBC World Service yang dilansir dari Detik Travel pada Jumat (12/6/2026).

>>> Veda Ega Pratama Raih Dua Podium pada Moto3 2026

Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa lebih dari seperempat negara peserta menghadapi pembatasan perjalanan dan aturan birokrasi visa yang sangat ketat dari pemerintah Amerika Serikat.

Data dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mencatat tingkat penolakan visa untuk warga dari 11 negara peserta bahkan menembus angka di atas 40 persen.

Negara-negara yang terdampak dengan persentase penolakan tinggi tersebut di antaranya adalah Aljazair, Senegal, Ghana, Iran, Yordania, hingga Republik Demokratik Kongo.

Kisah Suporter yang Gagal Berangkat

Seorang pendukung asal Irak bernama Abdulla Adnan menjadi salah satu korban yang gagal berangkat meski telah membeli tiket pertandingan segera setelah timnas negaranya dipastikan lolos kualifikasi.

"Pergi ke pertandingan, berada di stadion, bersama kerumunan suporter, bersorak, dan melihat tim saya bermain adalah hal yang sangat berarti bagi saya.

Tidak ada perasaan lain yang bisa menandinginya," kata Abdulla Adnan.

Adnan terpaksa menyerah setelah menghabiskan biaya sekitar USD 1.800 atau Rp 32 juta karena layanan visa Amerika Serikat di Irak sedang dihentikan sementara akibat situasi keamanan kawasan.

Kebijakan pembatasan serupa juga berdampak langsung pada para pendukung dari negara peserta lainnya seperti Iran, Haiti, Senegal, dan Pantai Gading.

"Ini adalah bentuk segregasi yang tidak berani disebutkan secara terang-terangan, tetapi buktinya ada. Tidak ada negara Eropa yang menghadapi pembatasan seperti ini.