Digitalisasi sekolah sering kali menjadi tantangan bagi pendidik yang merasa asing dengan teknologi. Namun, seorang guru IPS justru memanfaatkan situasi tersebut untuk menciptakan solusi mandiri.

Guru tersebut sebelumnya mengalami kesulitan karena sistem bel otomatis dari pihak ketiga sulit dimodifikasi.

>>> Bea Cukai Uji Coba Sistem Pemantauan Produksi Rokok Otomatis

Sistem berbayar maupun gratis kerap bermasalah, sehingga sekolah harus mengeluarkan biaya tambahan saat terjadi gangguan.

Akibatnya, guru piket harus menjalankan bel secara manual yang melelahkan dan rawan terlewat. Rasa penasaran terhadap kecerdasan buatan mendorongnya untuk bereksperimen.

Dengan menggunakan komputer sekolah yang terhubung ke perangkat audio, ia mulai merancang sistem bel otomatis secara mandiri.

Proses pembuatan tidak mudah karena script sering eror dan jadwal bel tidak sesuai.

>>> Mochamad Iriawan Pastikan Distribusi Energi di NTT Aman

Meski sempat ingin menyerah, titik balik terjadi ketika sistem akhirnya berfungsi tepat waktu. Rekaman suara disesuaikan dengan durasi jam pelajaran, istirahat, dan waktu pulang.

Hasil Uji Coba dan Kemandirian Sekolah

Penerapan sistem baru ini langsung berdampak positif pada ketertiban kegiatan belajar mengajar. Guru piket tidak lagi dibebani tugas menekan bel manual, sehingga suasana sekolah menjadi lebih tenang.

Uji coba berlangsung selama tiga minggu dan menunjukkan efisiensi tinggi. Sistem yang sepenuhnya gratis ini berhasil menekan risiko keterlambatan bel.

Pengalaman ini menjadi refleksi bahwa teknologi AI adalah alat bantu yang tetap membutuhkan peran manusia sebagai penggerak utama.

>>> Kemensos Salurkan Bansos PKH Tahap 2 Melalui Bank Himbara dan PT Pos

Keberanian pendidik untuk mencoba hal baru menjadi kunci menghadapi transformasi digital di sekolah.