Kehadiran fisik orang tua di dekat anak belum tentu mencerminkan kedekatan emosional yang sesungguhnya.

Banyak orang tua merasa sudah menemani buah hati sepanjang hari, namun pikiran mereka justru terbagi ke hal lain.

>>> Menakar Keterbukaan Emosional dan Hilangnya Ruang Sunyi dalam Budaya Berbagi

Dilansir dari Katanetizen, situasi di mana orang tua berada di ruangan yang sama tetapi sibuk menatap layar gawai sering kali membuat anak merasa diabaikan.

Bagi anak, esensi kehadiran bukan diukur dari lamanya waktu, melainkan dari kehangatan perhatian yang utuh.

Ketika anak menunjukkan sikap rewel atau mudah marah, hal tersebut bisa menjadi indikasi bahwa mereka masih haus akan perhatian.

Kebingungan orang tua yang merasa sudah menghabiskan banyak durasi di rumah menunjukkan adanya fokus yang keliru pada kuantitas, bukan kualitas.

Anak-anak tidak pernah menghitung jam atau mencatat durasi kebersamaan secara matematis.

Rekaman memori mereka lebih didasarkan pada perasaan, seperti apakah mereka benar-benar didengar, ditatap matanya, dipeluk, atau justru diabaikan.

Kualitas Interaksi Lebih Bermakna

Persoalan ini juga sempat diulas dalam salah satu episode kanal YouTube Nikita Willy Official bertajuk #Momscorner 84 Anne Margareta.

Melalui tayangan tersebut, ditekankan bahwa fokus utama kebersamaan terletak pada kualitas keterhubungan yang tercipta antara ibu dan anak.

Satu jam interaksi yang dilakukan tanpa adanya distraksi dinilai jauh lebih bermakna bagi perkembangan anak.

Sebaliknya, hadir berjam-jam secara fisik tanpa keterlibatan emosional tidak akan memberikan dampak positif yang serupa.

Dilihat dari sudut pandang psikologi anak usia dini, interaksi yang responsif sangat krusial dalam membangun rasa aman.

>>> Bareskrim Tetapkan Lima Tersangka Kasus Emas Ilegal Pemurnian