Fondasi emosional anak terbentuk ketika mereka mendapatkan respons lembut saat menangis dan didengarkan secara utuh saat bercerita.

Teori psikologi mengenai kelekatan atau attachment yang dipopulerkan oleh John Bowlby dan dikembangkan Mary Ainsworth menegaskan hal ini.

Anak membutuhkan figur lekat yang konsisten dan responsif agar dapat memandang dunia sebagai tempat yang aman.

Hubungan yang hangat melalui tatapan mata, sentuhan, senyuman, serta nada suara lembut juga menstimulasi perkembangan otak anak.

Interaksi positif ini membantu pembentukan jalur saraf yang mengontrol regulasi emosi serta menumbuhkan rasa percaya diri, kemandirian, dan keberanian.

Perbandingan dua situasi memperjelas perbedaan dampak antara kuantitas dan kualitas kebersamaan.

Berada di dekat anak selama tiga jam sambil terus memeriksa notifikasi gawai akan membuat anak merasa seperti berbicara sendiri meskipun durasinya lama.

Sementara itu, berinteraksi selama lima belas menit saja tanpa gawai, dengan menatap mata, tertawa bersama, dan memberikan pelukan, akan jauh lebih membekas.

Anak akan mengingat momen di mana diri mereka benar-benar dilihat, didengar, dan dicintai oleh orang tua.

Evaluasi ini bukan bertujuan untuk menyudutkan orang tua yang sering kali merasa lelah di tengah kesibukan harian.

>>> Son Heung-min Cetak Sejarah Tampil di Empat Edisi Piala Dunia

Langkah perbaikan dapat dimulai dengan meningkatkan kesadaran untuk hadir secara utuh pada momen-momen kebersamaan yang sudah tersedia.